Pendekatannya terhadap Kim Jong Un dari Korea Utara contohnya. Dari ancaman saling menghancurkan, tiba-tiba berubah menjadi pertemuan empat mata. Memang, masalah nuklir tidak serta-merta lenyap. Tapi suasana berubah drastis dari tegang menjadi mungkin untuk dialog.
Kemudian ada Abraham Accords di Timur Tengah. Beberapa negara Arab sepakat membuka hubungan dengan Israel. Sekali lagi, ini bukan solusi final untuk konflik yang sudah berabad. Tapi ini jelas mengubah peta hubungan regional. Dalam geopolitik, terkadang mengubah arah angin lebih bernilai daripada menunggu kesempurnaan.
Dolar sebagai Senjata Andalan
Trump tampaknya menyadari satu hal: di era sekarang, kekuatan finansial bisa lebih mematikan daripada kekuatan militer. Sanksi ekonomi terhadap Iran memperlihatkan hal itu. Tanpa perlu perang terbuka yang berdarah-darah, tekanan ekonomi bisa melumpuhkan sebuah negara.
Amerika masih menguasai sistem keuangan global. Akses ke mata uang dolar adalah kebutuhan vital bagi banyak negara. Trump menggunakan posisi dominan ini sebagai alat tawar-menawar utamanya. Keras? Tentu. Tapi banyak yang bilang, cukup efektif.
Lalu, Mengapa Banyak yang Tak Nyaman?
Jawabannya sederhana: Trump membongkar ilusi yang selama ini nyaman kita pelihara.
Diplomasi modern kerap dibalut dengan kata-kata indah tentang persahabatan dan kemitraan. Padahal di baliknya, ya tetap saja ada kepentingan nasional masing-masing. Trump dengan gamblang menyebutkan hal yang biasanya hanya dibisikkan di belakang layar. Dia membuat sebuah transaksi terlihat persis seperti apa adanya: sebuah transaksi.
Bagi sebagian orang, ini adalah kejujuran yang menyegarkan. Bagi yang lain, ini adalah perusakan tatanan yang sudah dibangun dengan susah payah.
Tentu Saja, Ada Sisi Lemahnya
Namun, gambaran ini tidak lengkap tanpa melihat kelemahannya. Pendekatan yang terlalu transaksional bisa mengikis kepercayaan jangka panjang. Sekutu lama bisa merasa diperlakukan seperti rekan bisnis musiman, membuat hubungan terasa dingin dan tak menentu.
Selain itu, banyak kebijakannya sangat personal dan bergantung pada karakternya. Begitu pemimpin berganti, arahnya bisa berbalik 180 derajat. Gaya yang cepat dan langsung mungkin memberi hasil instan, tapi belum tentu bertahan lama.
Dan tak bisa dipungkiri, Trump adalah sosok yang sangat memecah belah. Dia membangkitkan loyalitas fanatik sekaligus kebencian yang mendalam. Itu adalah kekuatannya, sekaligus titik terlemahnya.
Jadi, Kesimpulannya?
Trump lebih dari sekadar politisi. Dia adalah seorang negosiator ulung, komunikator media yang piawai, sekaligus pemain psikologi massa. Dia bukan ideolog, melainkan pragmatis sejati. Penampilan baik bukan prioritasnya; yang penting adalah terlihat menang. Dia bukan diplomat klasik. Dia adalah deal maker.
Cermin yang Memantulkan Wajah Asli Dunia
Mungkin, alasan mendasar mengapa Trump begitu mengguncang adalah karena dia seperti cermin. Dia memantulkan wajah dunia internasional yang sesungguhnya: sebuah tempat yang keras, penuh kepentingan, dan kompetitif.
Dia tidak menciptakan permainan ini. Dia hanya memainkannya dengan cara yang terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling. Dan barangkali, yang paling membuat kita gelisah bukanlah sosok Trump sendiri, melainkan kesadaran bahwa cara pandangnya terlepas dari segala kontroversinya kadang mengandung kebenaran yang tak ingin kita akui.
Artikel Terkait
Kesepian di Era Terhubung: Ironi Dunia yang Semakin Digital
Atap Madrasah di Bogor Ambruk, Siswa Beralih Belajar Daring
London Bergemuruh: Ratusan Ribu Serukan Akhir Pendudukan Palestina
Hakim Desak Jaksa Kejar Buronan Kunci Kasus Korupsi Laptop Nadiem