London. Sabtu lalu, jalanan pusat kota London berubah total. Bukan oleh turis atau keramaian biasa, tapi oleh lebih dari seratus ribu orang yang membanjiri ruas-ruas utamanya. Mereka berkumpul untuk satu suara: menolak inisiatif perdamaian Donald Trump dan menuntut penghentian agresi Israel di Palestina. Aksi ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata 2015, sebuah gelombang solidaritas yang benar-benar terasa di jantung Inggris.
Kalau kamu lihat dari dekat, komposisi massa demonstrasinya beragam banget. Ada keluarga yang membawa anak-anak, para aktivis HAM yang sudah beruban, serikat pekerja dengan jaket seragam, sampai mahasiswa dan komunitas Arab serta Muslim. Mereka semua menyatu. Bendera Palestina berkibar di mana-mana, sementara spanduk-spanduk menuntut hal konkret: stop ekspor senjata ke Israel, minta pertanggungjawaban atas kejahatan perang, dan kecaman keras terhadap apa yang mereka anggap sebagai kebijakan genosida.
Di belakang pawai besar-besaran ini, ada koalisi kuat yang menggerakkannya. Kampanye Solidaritas Palestina jadi motor utama, berjibaku dengan sejumlah organisasi lain seperti Forum Palestina di Inggris, Koalisi Hentikan Perang, Sahabat Al-Aqsa, dan Asosiasi Muslim Inggris. Mereka bukan kelompok baru; ini gabungan lembaga yang punya rekam jejak panjang.
Intinya jelas. Bagi para penyelenggara, gelombang dukungan yang membesar ini adalah cermin nyata dari penolakan publik Inggris. Mereka tak mau solusi politik yang mengabaikan hak-hak dasar rakyat Palestina terutama hak pulang bagi pengungsi dan akhir dari pendudukan yang sudah puluhan tahun dipaksakan begitu saja.
Suara-Suara dari Panggung
Panggung utama hari itu diisi oleh sederet tokoh. Jeremy Corbyn hadir, begitu pula ahli bedah Palestina-Inggris Ghassan Abu Sitta, politisi Partai Buruh John McDonnell, dan seniman aktivis Juliet Stevenson. Suasana tegang tapi penuh semangat.
Mereka bergantian menyoroti krisis kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Perwakilan Forum Palestina dan Kampanye Pita Merah juga naik, dengan fokus khusus pada nasib ribuan tahanan Palestina yang kerap terlupakan.
Jeremy Corbyn, dalam pidatonya, menyebut situasi di Palestina adalah ujian bagi hati nurani global.
Dia menyoroti praktik penahanan administratif Israel, menahannya orang tanpa pengadilan, sebagai pelanggaran hukum internasional yang nyata. Corbyn juga menegaskan penolakannya terhadap rencana Trump. Baginya, pihak yang menghancurkan Gaza harus bertanggung jawab membangunnya kembali. Hak para pengungsi untuk pulang, katanya, adalah hak yang tak bisa ditawar.
Artikel Terkait
Motor Sudah Lunas, Malah Ditarik Paksa: Polisi Turun Tangan Bantu Ibu di Depok
Misi Evakuasi Berujung Maut, Petugas Satpol PP Tewas Dibacok ODGJ di Kebumen
Kesepian di Era Terhubung: Ironi Dunia yang Semakin Digital
Atap Madrasah di Bogor Ambruk, Siswa Beralih Belajar Daring