London Bergemuruh: Ratusan Ribu Serukan Akhir Pendudukan Palestina

- Senin, 02 Februari 2026 | 22:25 WIB
London Bergemuruh: Ratusan Ribu Serukan Akhir Pendudukan Palestina

London. Sabtu lalu, jalanan pusat kota London berubah total. Bukan oleh turis atau keramaian biasa, tapi oleh lebih dari seratus ribu orang yang membanjiri ruas-ruas utamanya. Mereka berkumpul untuk satu suara: menolak inisiatif perdamaian Donald Trump dan menuntut penghentian agresi Israel di Palestina. Aksi ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata 2015, sebuah gelombang solidaritas yang benar-benar terasa di jantung Inggris.

Kalau kamu lihat dari dekat, komposisi massa demonstrasinya beragam banget. Ada keluarga yang membawa anak-anak, para aktivis HAM yang sudah beruban, serikat pekerja dengan jaket seragam, sampai mahasiswa dan komunitas Arab serta Muslim. Mereka semua menyatu. Bendera Palestina berkibar di mana-mana, sementara spanduk-spanduk menuntut hal konkret: stop ekspor senjata ke Israel, minta pertanggungjawaban atas kejahatan perang, dan kecaman keras terhadap apa yang mereka anggap sebagai kebijakan genosida.

Di belakang pawai besar-besaran ini, ada koalisi kuat yang menggerakkannya. Kampanye Solidaritas Palestina jadi motor utama, berjibaku dengan sejumlah organisasi lain seperti Forum Palestina di Inggris, Koalisi Hentikan Perang, Sahabat Al-Aqsa, dan Asosiasi Muslim Inggris. Mereka bukan kelompok baru; ini gabungan lembaga yang punya rekam jejak panjang.

Intinya jelas. Bagi para penyelenggara, gelombang dukungan yang membesar ini adalah cermin nyata dari penolakan publik Inggris. Mereka tak mau solusi politik yang mengabaikan hak-hak dasar rakyat Palestina terutama hak pulang bagi pengungsi dan akhir dari pendudukan yang sudah puluhan tahun dipaksakan begitu saja.

Suara-Suara dari Panggung

Panggung utama hari itu diisi oleh sederet tokoh. Jeremy Corbyn hadir, begitu pula ahli bedah Palestina-Inggris Ghassan Abu Sitta, politisi Partai Buruh John McDonnell, dan seniman aktivis Juliet Stevenson. Suasana tegang tapi penuh semangat.

Mereka bergantian menyoroti krisis kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Perwakilan Forum Palestina dan Kampanye Pita Merah juga naik, dengan fokus khusus pada nasib ribuan tahanan Palestina yang kerap terlupakan.

Jeremy Corbyn, dalam pidatonya, menyebut situasi di Palestina adalah ujian bagi hati nurani global.

“Tidak akan pernah ada perdamaian sejati selama ketidakadilan dan pendudukan terus berlangsung,” tegasnya.

Dia menyoroti praktik penahanan administratif Israel, menahannya orang tanpa pengadilan, sebagai pelanggaran hukum internasional yang nyata. Corbyn juga menegaskan penolakannya terhadap rencana Trump. Baginya, pihak yang menghancurkan Gaza harus bertanggung jawab membangunnya kembali. Hak para pengungsi untuk pulang, katanya, adalah hak yang tak bisa ditawar.

Simbol Merah di Tengah Kerumunan

Ada pemandangan unik di tengah lautan manusia: pita merah dibagikan ke ribuan peserta. Itu adalah simbol dari kampanye global untuk tahanan Palestina. Warna merah itu bukan tanpa makna ia melambangkan bahaya nyata yang mengintai nyawa para tahanan: penyiksaan, kurangnya perawatan medis, kondisi penjara yang kejam.

“Isu para tahanan akan tetap menjadi prioritas hingga mereka dibebaskan,” begitu bunyi tekad dari para penggerak kampanye.

Adnan Hmaidan, koordinator Kampanye Pita Merah, bilang aksi ini kebetulan bertepatan dengan peringatan satu tahun meninggalnya gadis Palestina, Hind Rajab. Kisah Hind, katanya, adalah potret kecil dari tragedi besar yang terus berulang.

“Pesan kami jelas: jangan biarkan pendudukan melenyapkan apa yang tersisa dari rakyat Palestina, terutama para tahanan yang hidup dalam kondisi paling keras,” ujar Hmaidan.

Sementara itu, Shaima Dalali dari Asosiasi Muslim Inggris menyuarakan kepedihan lain. Setiap angka korban jiwa di Gaza, katanya, bukan sekadar statistik.

“Setiap angka mewakili keluarga yang hancur dan masa depan yang direnggut,” imbuhnya.

Eko di Berbagai Benua

London bukan satu-satunya. Aksi serupa bergulir di banyak negara lain hampir bersamaan Kanada, Australia, Jerman, sampai Korea Selatan dan Meksiko. Ini seperti gelombang solidaritas global yang saling menyambut.

Banyak peserta yang melihat konvergensi ini sebagai tanda positif. Kesadaran dunia sedang tumbuh. Ada penolakan kolektif untuk menormalisasi kejahatan atau menerima situasi di Palestina sebagai sebuah ‘kenyataan yang tak bisa diubah’.

Pesan terakhir dari para penyelenggara di London tegas: suara masyarakat Inggris tak akan padam. Solidaritas ini akan terus ada selama pendudukan masih berlangsung, hak-hak ditunda, dan penderitaan manusiawi belum berakhir. Mereka janji akan terus bergerak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler