Sementara itu, versi aparat penegak hukum berbeda. Mereka menyebut pelaku hanya satu orang, berinisial IS, yang melakukan pemukulan brutal. Beberapa orang lain dikatakan berada di lokasi, namun berjarak sekitar tujuh meter.
Perbedaan ini disoroti banyak pihak. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menilai kasus ini berakar dari konflik tambang emas ilegal (PETI) yang beroperasi begitu dekat dengan rumah korban bahkan hanya sekitar dua kilometer dari kantor polisi.
“Kami menilai bahwa negara gagal melindungi warga dari ancaman yang sudah terprediksi,” tegas Anis. Ia juga menyoroti pengucilan adat yang dialami Nenek Saudah sebagai bentuk kekerasan lanjutan yang memperparah penderitaan.
Dari sudut pandang lain, Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah melihat persoalan berlapis. “Korban mengalami kekerasan dan diskriminasi berlapis sebagai perempuan lansia dan perempuan adat,” katanya. Korban diasingkan secara sosial, kehilangan tempat tinggal, dan martabatnya tercoreng.
Desakan dari DPR
Di sisi lain, anggota Komisi XIII DPR tak kalah vokal. Arisal Aziz dari Fraksi PAN menegaskan, nenek itu sedang mempertahankan tanah ulayatnya. “Yang namanya si pemilik tanah itu berjuang. Bagaimana tanahnya tersebut jangan digarap,” ujarnya.
Ia mendesak aparat mengungkap semua pelaku, bukan hanya satu orang.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi XIII, Sugiat Santoso. Ia melihat kejanggalan serius. “Dari logika itu saja, seharusnya pelakunya itu tidak satu. Pelakunya adalah komplotan,” tegas Sugiat.
Ia bahkan membuka kemungkinan rekomendasi pencopotan pejabat kepolisian jika penegakan hukum tak berjalan. “Kalau tambang ilegal dalam kasus Nek Saudah ini tidak ada tindakan dari aparat... ya kita bisa merekomendasikan supaya Kapolres Pasaman dan Kapolda Sumbar dicopot,” ungkapnya tanpa ragu.
Rapat itu pun ditutup dengan komitmen untuk mengusut tuntas kasus ini, menuntut penutupan tambang ilegal, dan memulihkan hak-hak Nenek Saudah. Sebuah janji yang kini ditunggu realisasinya, bukan hanya oleh seorang nenek yang terluka, tapi oleh seluruh masyarakat yang haus akan keadilan.
Artikel Terkait
Prabowo Soroti Kualitas Hidup, Sekolah Rakyat Jadi Ujung Tombak
Kain Suci Kabah Dikirim ke Epstein Lewat Jalur Rahasia
Pigai Bicara RUU HAM: Dari Penyidikan Hingga Imunitas Aktivis
Hamas Peringatkan Israel: Pelanggaran Gencatan Senjata Bakal Berakibat Serius