Dunia dalam Sehari: Grok Dibuka Kembali, Alcaraz Pecahkan Rekor, hingga Duka di Balochistan

- Senin, 02 Februari 2026 | 17:45 WIB
Dunia dalam Sehari: Grok Dibuka Kembali, Alcaraz Pecahkan Rekor, hingga Duka di Balochistan

Selamat pagi. Dunia bergerak cepat dalam 24 jam terakhir, dan inilah beberapa peristiwa yang menarik perhatian kami.

GroK Kembali, Tapi dengan Syarat Ketat

Tiga minggu lalu, Indonesia membuat gebrakan. Mereka jadi negara pertama yang memblokir chatbot Grok, produk AI Elon Musk, gara-gara konten pornografi yang dihasilkan mesin. Langkah tegas itu sempat jadi perbincangan.

Tapi situasinya berubah. Akses ke Grok akhirnya dibuka kembali oleh pemerintah. Keputusan ini muncul setelah X Corp, perusahaan di belakangnya, berjanji bakal patuh pada aturan yang berlaku di sini.

Namun begitu, jangan bayangkan pembukaan ini bersifat bebas. Kementerian Komunikasi dan Digital bilang, aksesnya dipulihkan "secara bersyarat dan di bawah pengawasan ketat." Intinya, mereka bakal mengawasi dengan mata elang.

Alcaraz Pecahkan Rekor di Melbourne

Carlos Alcaraz baru saja menuntaskan misinya. Di final Australian Open, petenis berusia 22 tahun itu menundukkan Novak Djokovic, sang raja dengan 24 gelar Grand Slam. Luar biasa, ini justru jadi penampilan terbaiknya di Melbourne, setelah sebelumnya tak pernah melaju ke perempat final.

Kemenangan ini punya makna besar. Alcaraz kini jadi pria termuda yang mengoleksi keempat gelar Grand Slam karier. Dia menyusul nama-nama legendaris seperti Agassi, Federer, dan Nadal.

Usai pertandingan, dia menulis pesan singkat di lensa kamera: "Tugas selesai. 4/4 selesai."

Gelar Australian Open 2026 itu melengkapi koleksinya: French Open (2024, 2025), Wimbledon (2023, 2024), dan US Open (2022, 2025). Sebuah pencapaian yang hampir tak masuk akal untuk usianya.

Kekerasan Mengerikan di Balochistan

Suasana duka menyelimuti Pakistan. Serangkaian serangan bunuh diri dan tembak-menembak yang terkoordinasi di provinsi Balochistan menewaskan sedikitnya 33 orang. Korban jiwa itu termasuk warga sipil dan personel keamanan.

Menurut pihak berwenang, dari jumlah itu, 11 adalah warga sipil dan 15 lainnya dari kalangan keamanan.

Kelompok separatis mengklaim dalang di balik hampir belasan serangan yang menyasar berbagai target: mulai dari warga biasa, penjara berkeamanan tinggi, sampai kantor polisi. Militer Pakistan tak tinggal diam. Mereka merespons dan melaporkan telah menewaskan 92 orang penyerang dalam baku tembak.

Skandal Epstein: Bab Baru yang Memalukan bagi Kerajaan Inggris

Keluarga kerajaan Inggris kembali terseret dalam rasa malu. Kali ini, dokumen baru dari penyelidikan AS terhadap Jeffrey Epstein, terpidana kasus seksual, merinci hubungan yang sangat tidak sedap dengan seseorang yang disebut-sebut sebagai Pangeran Andrew.

Email yang dirilis Departemen Kehakiman AS itu isinya cukup mencengangkan. Ada undangan makan malam untuk Epstein di Istana Buckingham. Lalu, tawaran Epstein untuk memperkenalkan seorang perempuan Rusia berusia 26 tahun. Yang paling mengganggu, ada foto-foto yang tampaknya menunjukkan Andrew Mountbatten-Windsor dalam pose yang meragukan berlutut di atas seseorang dan terbaring di lantai.

Pengungkapan ini datang di saat yang sensitif. Hanya tiga bulan sebelumnya, Raja Charles III baru saja mencabut gelar kerajaan Andrew, termasuk haknya untuk disebut sebagai pangeran. Dokumen ini seperti menambah bahan bakar ke api yang belum padam.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler