Yang lebih membuatnya geram adalah respons dari penanggung jawab acara, seorang pria bernama Akbar. Alih-alih meminta maaf atau berjanji membersihkan, pertanyaannya justru mencurigai.
Sumiati mengeluh. Kawasan ini kan pusat kota, letaknya berhadapan dengan kantor gubernur. Bayangkan saja, pemandangan tak sedap dipandang mata plus bau yang mengganggu. "Ini baru pertama kali kejadian, sampah dibiarkan," tegasnya. Padahal, tanggung jawab akhirnya jatuh ke pundak dinas dan petugas seperti dirinya.
Pantauan di lokasi memang memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan. Sampah berjejer di sejumlah titik, sisa pesta kuliner yang berakhir menjadi masalah bagi publik. Bau busuknya sudah tercium, meski belum terlalu menyengat. Tapi jika dibiarkan lebih lama, bisa jadi masalah yang lebih besar.
Artikel Terkait
PGRI Protes: Mengapa Hanya Guru yang Dijuluki Honorer?
Foto Palsu Zohran Mamdani dan Epstein: Hoaks yang Diperparah Kebencian Sektarian
Di Tengah Gelap dan Dingin Perang, Warga Kiev Menari di Atas Sungai Beku
Pria di Blora Terancam 1,5 Tahun Penjara Usai Tewaskan Kucing dengan Tendangan