Menurut Gus Umar, air mata dalam dunia politik seringkali jadi alat. Strategi untuk membangun narasi korban, terutama ketika kritik dari publik mulai mengeras. Alih-alih larut dalam drama emosional, ia mendesak agar perdebatan tetap mengerucut pada hal-hal yang substansial. Misalnya, soal relasi kekuasaan yang timpang, hak istimewa yang melekat pada status tertentu, dan bagaimana seharusnya proses kaderisasi partai berjalan dengan sehat.
Ia juga mengingatkan, posisi Kaesang sebagai putra mantan presiden tetaplah sebuah keuntungan struktural yang besar. Narasi tekanan dan serangan, dalam pandangannya, tidak serta-merta menghapus privilege itu.
Namun begitu, di lain pihak, banyak pendukung Kaesang yang justru melihat tangisan itu sebagai sesuatu yang manusiawi. Bagi mereka, beban yang dipikul Kaesang tidaklah ringan: ekspektasi publik yang tinggi, tekanan sebagai figur baru, plus tanggung jawab memimpin partai di usia yang masih terbilang muda. Tangisan itu, kata mereka, wajar saja.
Peristiwa ini akhirnya memantik lagi perdebatan lama di ruang publik. Di mana sebenarnya batas antara ekspresi perasaan yang otentik dengan kalkulasi pencitraan di panggung politik? Di tengah iklim yang makin panas dan sarat emosi, pertanyaan itu seperti terus berulang. Publik kembali diajak memilah: mana air mata yang tulus, dan mana yang sekadar alat perang narratif.
Artikel Terkait
KDM Soroti Sampah dan Atap Seng di Tengah Harmonisasi Program Prabowo
Pernyataan Melawan Sampai Titik Darah Terakhir Picu Tuntutan Pemberhentian Kapolri
Kritik Prabowo Picu Satgas Khusus Bersihkan Pantai Bali
Gelombang Baru Pemakzulan Sara Duterte: Tuduh Ancam Bunuh Marcos hingga Dugaan Korupsi Dana Pendidikan