IHSG Terjun Bebas 5,32% Dihantam Isu Transparansi MSCI

- Senin, 02 Februari 2026 | 15:50 WIB
IHSG Terjun Bebas 5,32% Dihantam Isu Transparansi MSCI

Pasar saham kita diguncang badai jual pada Senin (2/2/2026). IHSG ambles tajam, menyeret hampir seluruh papan utama ke zona merah. Tekanannya begitu kuat, terutama ke saham-saham konglomerat besar yang biasanya jadi penopang indeks.

Sentimennya memang lagi buruk. Investor masih waswas dengan peringatan keras dari MSCI pekan lalu. Lembaga indeks global itu mempertanyakan kelayakan investasi di pasar kita, terutama soal transparansi kepemilikan publik atau free float. Isu ini ternyata bikin pasar ciut nyali.

Menurut pantauan di Bursa Efek Indonesia, tepat pukul 15.01 WIB, IHSG terperosok 5,32 persen ke level 7.886,10. Kerugiannya luas sekali. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, cuma 49 yang mampu bertahan di wilayah hijau. Sebaliknya, 768 lainnya terkapar. Transaksi harian pun mencapai Rp23,87 triliun dengan volume 40,78 miliar saham.

Yang paling parah, banyak saham konglomerat yang jatuh sampai menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 15 persen. Seolah-olah tak ada daya beli sama sekali.

Lihat saja Grup Bakrie. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) langsung terjun bebas 15 persen ke Rp1.105. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga sama, terpental ke Rp680. Tekanan serupa menghantam PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan beberapa emiten tambang lainnya.

Di sisi lain, grup-grup besar lain tak kalah babak belur.

Dari kendali Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) tumbang 15 persen ke Rp6.000. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) ikut terseret. Saham-saham lain yang berafiliasi juga catat penurunan tajam.

Kelompok usaha Happy Hapsoro pun tak luput. Dari PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) hingga PT Pakuan Tbk (UANG), semuanya terjebak tekanan jual hingga ARB.

Belum lagi saham milik Haji Isam, seperti PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), yang juga terkapar. Tekanan ini seperti virus, menjalar ke mana-mana.

Grup Sinarmas lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkena imbas. Demikian pula Grup Merdeka dan Grup Emtek. Bahkan saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) milik Hermanto Tanoko serta beberapa saham Grup Salim ikut ketar-ketir.

Ini bukan kali pertama pasar kita gonjang-ganjing. Sebelumnya, tepatnya Rabu dan Kamis pekan lalu, IHSG sempat anjlok 8 persen secara intraday. Kejadian itu sampai memicu trading halt selama setengah jam. Pemicunya sama: pernyataan MSCI yang akan menunda perubahan indeks sampai regulator kita menyelesaikan isu kepemilikan yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Inti masalahnya, menurut MSCI, ada pada investabilitas. Free float yang rendah bikin likuiditas terbatas dan volatilitas melonjak. Ini soal kepercayaan.

Namun begitu, otoritas kita nampaknya tak tinggal diam.

OJK bersama SRO dikabarkan sedang menyiapkan sejumlah langkah respons. Mulai dari penyampaian data kepemilikan emiten yang lebih rinci sesuai standar internasional hingga wacana aturan baru soal free float minimum 15 persen, baik untuk emiten baru maupun yang sudah listing.

Langkah perbaikan memang mendesak. Pasar menunggu kepastian.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar