Belum lagi saham milik Haji Isam, seperti PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), yang juga terkapar. Tekanan ini seperti virus, menjalar ke mana-mana.
Grup Sinarmas lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkena imbas. Demikian pula Grup Merdeka dan Grup Emtek. Bahkan saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) milik Hermanto Tanoko serta beberapa saham Grup Salim ikut ketar-ketir.
Ini bukan kali pertama pasar kita gonjang-ganjing. Sebelumnya, tepatnya Rabu dan Kamis pekan lalu, IHSG sempat anjlok 8 persen secara intraday. Kejadian itu sampai memicu trading halt selama setengah jam. Pemicunya sama: pernyataan MSCI yang akan menunda perubahan indeks sampai regulator kita menyelesaikan isu kepemilikan yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Inti masalahnya, menurut MSCI, ada pada investabilitas. Free float yang rendah bikin likuiditas terbatas dan volatilitas melonjak. Ini soal kepercayaan.
Namun begitu, otoritas kita nampaknya tak tinggal diam.
OJK bersama SRO dikabarkan sedang menyiapkan sejumlah langkah respons. Mulai dari penyampaian data kepemilikan emiten yang lebih rinci sesuai standar internasional hingga wacana aturan baru soal free float minimum 15 persen, baik untuk emiten baru maupun yang sudah listing.
Langkah perbaikan memang mendesak. Pasar menunggu kepastian.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak