Gencatan Senjata Gaza Retak, 32 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara

- Senin, 02 Februari 2026 | 08:30 WIB
Gencatan Senjata Gaza Retak, 32 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara

Menariknya, semua ini terjadi di saat gencatan senjata seharusnya memasuki fase kedua. Militer Israel punya alasan sendiri. Mereka menyatakan serangan udara ini sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas sehari sebelumnya. Menurut klaim mereka, sasaran adalah kelompok bersenjata, termasuk empat komandan serta anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina.

Namun begitu, klaim itu langsung dibantah keras oleh Hamas. Suhail al-Hindi, dari biro politik organisasi tersebut, mengecam dengan keras.

“Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan besar yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun,” tegasnya.

Indonesia Angkat Suara, Kecam Pelanggaran Gencatan Senjata

Merespons kekerasan yang terus berlanjut ini, pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia secara resmi mengecam keras serangan berulang Israel, termasuk yang terjadi pada Sabtu (31/1) itu.

“Indonesia mengecam keras serangan berulang Israel di Jalur Gaza, termasuk serangan terbaru pada 31 Januari 2026, yang menyasar kawasan sipil dan fasilitas publik,” tulis pernyataan resmi Kemlu di platform media sosial.

Intinya jelas: Indonesia menilai tindakan Israel ini telah melanggar komitmen gencatan senjata yang berlaku. Pemerintah kita juga menyerukan agar Israel memenuhi kewajibannya untuk menghormati kesepakatan tersebut secara penuh.

Di sisi lain, angka korban terus bergerak. Laporan lain menyebutkan korban tewas dari serangan udara terbaru ini bertambah menjadi 28 orang. Badan pertahanan sipil menyatakan seperempat dari korban adalah anak-anak, dan sepertiganya perempuan. Mereka juga mengonfirmasi masih ada orang yang hilang tertimbun reruntuhan.

“Apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi menjadi sasaran, yang mengakibatkan bencana kemanusiaan ini,” pungkas Mahmud Bassal, mengulang kepedihan yang sama.

Pertumpahan darah ini terjadi bertepatan dengan rencana Israel membuka kembali penyeberangan Rafah. Sebuah kontras yang menyayat hati: di satu sisi ada pintu yang dibuka, di sisi lain, nyawa terus melayang di dalamnya.


Halaman:

Komentar