Gelar Berguguran, Janji Pendidikan Tinggi Retak di Ujung Karier

- Rabu, 17 Desember 2025 | 03:06 WIB
Gelar Berguguran, Janji Pendidikan Tinggi Retak di Ujung Karier

Selama ini, kita percaya bahwa kuliah adalah tiket menuju hidup yang mapan. Dapat gelar sarjana, masa depan pun terasa lebih pasti. Tapi coba lihat realita sekarang. Bagi banyak lulusan, keyakinan itu mulai retak. Ijazah tak lagi jadi jaminan. Pendidikan tinggi kini seperti berada di persimpangan jalan, terjepit antara harapan yang menggunung dan kenyataan yang kerap pahit.

Menurut data BPS, memang cuma sekitar 10% penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Angkanya terbilang rendah. Namun begitu, jumlah sarjana yang lulus tiap tahun terus bertambah. Di sisi lain, lapangan kerja tak tumbuh secepat itu. Ketimpangan inilah yang memaksa banyak sarjana menerima nasib: menganggur lama, kerja di bidang yang tak dikuasai, atau terperangkap dalam pekerjaan yang serba tak pasti.

Fakta ini mematahkan anggapan lama. Gelar akademik memang penting, tapi jelas tak lagi cukup. BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka nasional masih mencakup jutaan orang dan di dalam angka itu, lulusan perguruan tinggi juga ada. Mereka bukan kelompok yang kebal.

Persoalannya tak cuma soal statistik. Yang lebih mengkhawatirkan adalah krisis harapan yang muncul. Selama puluhan tahun, pendidikan tinggi dijanjikan sebagai jalan untuk mobilitas sosial, cara keluar dari keterbatasan ekonomi. Nah, ketika janji itu tak kunjung terwujud, yang goyah bukan cuma rencana karier. Kepercayaan terhadap sistem pendidikan itu sendiri ikut terguncang. Banyak lulusan muda kini bertanya-tanya, apa sebenarnya makna dari semua jerih payah, biaya, dan waktu yang mereka habiskan di kampus?

Dunia kerja juga berubah cepat. Digitalisasi dan otomatisasi menggeser kebutuhan kompetensi. Tapi, respons kampus kerap tertinggal. Kurikulum di banyak tempat masih berkutat pada pencapaian akademik formal. Sementara itu, keterampilan adaptif, kemampuan lintas disiplin, dan mental untuk menghadapi ketidakpastian seringkali belum jadi perhatian utama. Alhasil, jurang antara kampus dan dunia nyata kian melebar.

Di tengah situasi ini, gampang sekali menyalahkan si lulusan. Dibilang kurang adaptif, kurang kompetitif, atau malas berusaha. Pandangan sempit itu mengabaikan satu hal: nggak semua mahasiswa punya akses yang sama. Magang berkualitas, jejaring profesional, atau pelatihan tambahan itu semua adalah privilege. Ketimpangan sosial membuat start line setiap orang berbeda. Ada yang sudah berlari jauh di depan, sementara yang lain harus terjebak di tempat, berjuang ekstra keras hanya untuk sekadar mendapat kesempatan yang sama.

Dampaknya merambat ke kehidupan sosial. Banyak anak muda memutuskan untuk menunda hal-hal penting: menikah, punya rumah, atau merencanakan masa depan. Semuanya karena kondisi ekonomi yang belum stabil. Alih-alih jadi fondasi, pendidikan tinggi malah berubah jadi sumber kecemasan baru. Kalau dibiarkan, ini bisa pengaruhi kesehatan mental dan ikatan sosial kita dalam jangka panjang.

Lantas, bagaimana jalan keluarnya? Pertama, pendidikan tinggi harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kampus nggak bisa hidup di menara gading, terpisah dari realitas sosial-ekonomi. Tapi di saat yang sama, pendidikan juga jangan direduksi cuma jadi pabrik pencetak pekerja. Tantangannya adalah mencari titik seimbang: membentuk nalar kritis, tapi juga mempersiapkan anak didik untuk dunia yang terus berubah.

Dari sisi kebijakan, membuka akses pendidikan lebih luas harus seiring dengan penciptaan lapangan kerja yang layak. Tanpa dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, menambah jumlah sarjana justru berisiko. Yang terjadi malah jarak antara harapan dan kenyataan kian melebar. Diperlukan sinergi nyata antara pemerintah, dunia usaha, dan kampus. Bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk menyelaraskan arah.

Pada akhirnya, kegelisahan para sarjana hari ini bukan tanda kemalasan. Ini adalah cerminan dari masa transisi yang belum usai. Dunia melesat cepat, sementara sistem kita masih tertatih-tatih mengejar. Menyadari hal ini barangkali jadi langkah awal. Agar pendidikan tinggi kembali menjadi ruang yang memampukan generasi muda. Bukan dengan janji-janji kosong, tapi dengan bekal nyata untuk menghadapi ketidakpastian yang, mau tak mau, adalah bagian dari hidup kita sekarang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar