Di Aula Timur ITB yang ramai, Sabtu lalu, Menteri Brian Yuliarto bicara blak-blan. Targetnya jelas: pertumbuhan ekonomi 7-8 persen menuju Indonesia Emas 2045. Tapi jalan menuju sana, menurutnya, tak semudah membalik telapak tangan. Kunci utamanya? Kolaborasi nyata antara kampus dan industri.
“Setiap produk inovasi itu tidak mudah menuju komersialisasi,” ujarnya tegas.
Brian lalu menyitir sebuah fakta yang cukup mencengangkan. “Ada satu paper yang menyebutkan bahwa satu produk yang berhasil masuk ke tahap komersial, itu berasal dari sekitar 3.000 inovasi!”
Angka itu sekaligus menggambarkan betapa panjang dan berlikunya rantai inovasi. Riset dari lab kampus tak bisa serta merta dipaksakan jadi produk pasar. Namun begitu, menurut Mendiktisaintek ini, negara tak boleh absen. Perannya adalah mendorong, mengawal, lewat kebijakan dan pendampingan yang kontinu.
Lalu, bagaimana skemanya? Kementeriannya punya cara. Mereka akan jadi semacam ‘jodoh’ bagi industri dan akademisi. Industri diminta memetakan kebutuhan inovasinya. Selanjutnya, kementerian yang akan mencari peneliti, dosen, atau profesor yang pas dengan bidang tersebut. Pendanaan riset pun disiapkan.
“Sepanjang hasil inovasi itu digunakan oleh industri, maka skema royalti bisa diberikan kepada kampus, profesor, maupun peneliti,” jelas Brian.
“Kami sangat terbuka. Mendukung penuh industri yang ingin berinovasi, termasuk inovasi yang lahir dari kampus.”
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Tere Liye Bongkar Tipu-Tipu Bekerja Keras untuk Keluarga, Ternyata yang Nikmati Hasilnya Cuma Mereka yang di Atas