Dukungannya tak berhenti di situ. Pemerintah, lewat kementeriannya, siap mengawal produk inovasi perguruan tinggi hingga benar-benar go to market. Bantuan mengurus perizinan yang kerap rumit, lintas Kementerian Perindustrian hingga Perdagangan, akan diberikan. Tapi Brian juga mengingatkan satu hal: semua pihak harus sabar. Jangan terburu-buru. Soalnya, risiko yang dihadapi industri juga tidak main-main.
Di sisi lain, ia menekankan satu poin krusial. Industri yang berbasis sains dan teknologi punya efek berlipat ganda bagi ekonomi. Di sinilah peran kampus dan alumni menjadi sangat strategis. Jejaring luas dan pengalaman para alumni dinilai bisa menjadi akselerator yang powerful.
“Kita berharap di sinilah perguruan tinggi dan juga alumni itu bisa mengakselerasi,” harapnya.
Tekanan juga datang dari atas. Presiden RI meminta kajian strategis yang benar-benar menyentuh kebutuhan bangsa, khususnya di bidang pengembangan industri sains dan teknologi. Brian melihat peluang besar di sana, terutama karena Indonesia dikaruniai kekayaan mineral yang melimpah.
Tapi itu semua, kata dia, tak akan berarti tanpa fondasi yang kokoh.
“Downstreaming industri itu butuh latar fundament sains dan teknologi,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Seminar yang digelar Alumni ITB Angkatan 80 itu pun berakhir dengan satu pesan jelas: mimpi pertumbuhan ekonomi tinggi menuju 2045, sangat bergantung pada kerja sama nyata antara menara gading dan dunia usaha. Tanpa itu, semuanya mungkin hanya akan tetap jadi wacana.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions