Gejolak di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Kali ini, imbasnya terasa sampai ke industri kemasan dalam negeri. Penutupan Selat Hormuz yang memanas itu, rupanya memicu kenaikan harga bahan baku secara merata.
Manajemen PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk, atau EPAC, mengaku sedang menghadapi tekanan biaya yang cukup serius. Dua hal jadi biang keroknya: harga minyak yang melambung dan ongkos logistik yang ikut-ikutan naik. "Lonjakan keduanya menyebabkan biaya produksi kami membengkak," jelas pihak perusahaan.
Masalahnya, bahan baku utama mereka adalah film berbasis resin. Nah, resin ini kan turunan petrokimia. Harganya sangat bergantung pada harga minyak mentah. Jadi, ketika minyak mahal, resin pun ikut mahal.
Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan resin itu, EPAC mengandalkan vendor dalam negeri. Baik itu produsen lokal maupun importir.
"Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, EPAC mengandalkan pasokan dari vendor domestik, baik produsen maupun importir," kata manajemen dalam keterbukaan informasi, Selasa (17/3/2026).
Namun begitu, situasi sekarang ini menyulitkan semua pihak. Produsen lokal terbebani harga resin yang tinggi. Sementara para importir dapat tekanan ganda: harga bahan baku di negara asal naik, ditambah biaya pengiriman yang juga melonjak drastis.
Akibatnya, sejak pertengahan Maret 2026 lalu, perseroan mencatat kenaikan harga film yang cukup signifikan. Kondisi ini jelas mempersempit ruang untuk berhemat. Apalagi, sampai saat ini EPAC belum juga menemukan alternatif bahan baku atau sumber pasokan baru yang harganya lebih bersaing.
Lalu apa langkah mereka? Sebagai bentuk mitigasi, perseroan memutuskan untuk menyesuaikan harga jual produknya. Tujuannya jelas, untuk menjaga margin keuntungan yang terus tergerus oleh biaya produksi yang membengkak.
Di sisi lain, meski tertekan, manajemen menyatakan belum ada rencana aksi korporasi besar-besaran dalam setahun ke depan. Fokus mereka saat ini lebih pada menjaga agar operasional perusahaan tetap stabil.
"Perseroan saat ini lebih fokus menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas harga energi dan logistik global," tutur manajemen.
Memang, gejolaknya cukup ekstrem. Harga minyak mentah seperti WTI dan Brent sempat menyentuh level di atas USD100 per barel. Angka itu hampir dua kali lipat dibanding posisinya di akhir tahun 2025. Sungguh lompatan yang fantastis.
Dan bukan cuma minyak. Biaya pengapalan global, yang tercermin dalam Containerized Freight Index, juga melesat tinggi. Lonjakannya mencapai 36 persen sejak konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran kembali memanas. Jadi, tekanan datang dari segala sisi.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020