Gelar Berguguran, Janji Pendidikan Tinggi Retak di Ujung Karier

- Rabu, 17 Desember 2025 | 03:06 WIB
Gelar Berguguran, Janji Pendidikan Tinggi Retak di Ujung Karier

Di tengah situasi ini, gampang sekali menyalahkan si lulusan. Dibilang kurang adaptif, kurang kompetitif, atau malas berusaha. Pandangan sempit itu mengabaikan satu hal: nggak semua mahasiswa punya akses yang sama. Magang berkualitas, jejaring profesional, atau pelatihan tambahan itu semua adalah privilege. Ketimpangan sosial membuat start line setiap orang berbeda. Ada yang sudah berlari jauh di depan, sementara yang lain harus terjebak di tempat, berjuang ekstra keras hanya untuk sekadar mendapat kesempatan yang sama.

Dampaknya merambat ke kehidupan sosial. Banyak anak muda memutuskan untuk menunda hal-hal penting: menikah, punya rumah, atau merencanakan masa depan. Semuanya karena kondisi ekonomi yang belum stabil. Alih-alih jadi fondasi, pendidikan tinggi malah berubah jadi sumber kecemasan baru. Kalau dibiarkan, ini bisa pengaruhi kesehatan mental dan ikatan sosial kita dalam jangka panjang.

Lantas, bagaimana jalan keluarnya? Pertama, pendidikan tinggi harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kampus nggak bisa hidup di menara gading, terpisah dari realitas sosial-ekonomi. Tapi di saat yang sama, pendidikan juga jangan direduksi cuma jadi pabrik pencetak pekerja. Tantangannya adalah mencari titik seimbang: membentuk nalar kritis, tapi juga mempersiapkan anak didik untuk dunia yang terus berubah.

Dari sisi kebijakan, membuka akses pendidikan lebih luas harus seiring dengan penciptaan lapangan kerja yang layak. Tanpa dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, menambah jumlah sarjana justru berisiko. Yang terjadi malah jarak antara harapan dan kenyataan kian melebar. Diperlukan sinergi nyata antara pemerintah, dunia usaha, dan kampus. Bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk menyelaraskan arah.

Pada akhirnya, kegelisahan para sarjana hari ini bukan tanda kemalasan. Ini adalah cerminan dari masa transisi yang belum usai. Dunia melesat cepat, sementara sistem kita masih tertatih-tatih mengejar. Menyadari hal ini barangkali jadi langkah awal. Agar pendidikan tinggi kembali menjadi ruang yang memampukan generasi muda. Bukan dengan janji-janji kosong, tapi dengan bekal nyata untuk menghadapi ketidakpastian yang, mau tak mau, adalah bagian dari hidup kita sekarang.


Halaman:

Komentar