Cuaca ekstrem makin kerap melanda. Musim pun jadi sulit ditebak. Itu semua bukan lagi sekadar fenomena alam biasa, melainkan pertanda nyata krisis iklim yang dampaknya sudah kita rasakan langsung. Deretan bencana di Tanah Air belakangan ini adalah buktinya.
Data BPS dalam publikasi Analisis Lingkungan Hidup Berkelanjutan: Perubahan Iklim di Indonesia 2024 dan 2025 mengungkap fakta mencengangkan: hampir semua bencana, tepatnya 99,34 persen, terkait dengan iklim. Ambil contoh banjir. Sepanjang 2024 saja, tercatat ada 1.420 kejadian.
Perubahan iklim ini bukan masalah sepele. Menurut kerangka PBB (UNFCCC), ia termasuk dalam Triple Planetary Crisis yang mengancam umat manusia. Pemicu utamanya? Emisi Gas Rumah Kaca dari aktivitas kita sehari-hari.
Nah, soal emisi GRK Indonesia, laporan BPS yang dirilis akhir 2025 itu membeberkan datanya. Sayang, data terbaru 2024 atau 2025 belum ada. Yang tersaji cuma rentang 2005 hingga 2023, dalam satuan Gigagram Karbon Dioksida Ekuivalen (GG CO2e).
Bingung dengan satuan itu? Bayangkan begini: 1 Gg CO2e itu sama dengan 1.000 ton karbon dioksida. Jadi, kalau angkanya sudah mencapai jutaan Gg, ya... beban yang harus ditanggung bumi kita sungguh luar biasa besarnya.
Pada 2023, misalnya, emisi GRK Indonesia tercatat 1,36 juta Gg CO2e. Kalau dikonversi, itu setara dengan 1,36 miliar ton karbon dioksida. Jumlah yang sulit dibayangkan, bukan?
Puncak emisi kita sebenarnya terjadi lebih awal, yakni di tahun 2015. Saat itu angkanya melonjak hingga 2,1 juta Gg CO2e. Menurut BPS, kebakaran gambut waktu itu menyumbang emisi besar: 410 ribu Gg CO2e. Kalau dirinci lebih jauh, kontributor terbesar emisi GRK 2023 berasal dari sektor energi, disusul oleh sektor kehutanan dan alih fungsi lahan.
Suhu Bumi Tembus 1,5° Celsius, Lebih Cepat dari Perkiraan
Kondisinya sudah darurat. Erma Yulihastin, Peneliti Ahli Utama Klimatologi BRIN, menyebut krisis iklim saat ini berada di level gawat. Suhu bumi kini berfluktuasi di batas 1,5° Celsius.
Padahal, batas maksimal yang disepakati dalam Persetujuan Paris adalah 2° Celsius. Traktat internasional itu mengajak semua negara berkomitmen menahan laju kenaikan suhu di bawah angka tersebut hingga 2060.
“Ilmuwan itu memproyeksi [suhu bumi] 2029 baru mencapai 1,5° Celsius. Nyatanya [suhu bumi] kita itu sudah melampaui 1,5° Celsius di tahun-tahun ini, bahkan sudah dari tahun 2023,” tutur Erma.
Artinya, bumi memanas lebih cepat dari prediksi. Dan ini masalah besar, karena perubahan iklim bersifat irreversible tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Menurut Erma, konsekuensinya sudah kita rasakan. Intensitas badai meningkat signifikan. Terumbu karang rusak, es di kutub mencair. Lalu musim jadi kacau, yang ujung-ujungnya mengganggu ketahanan pangan. Singkatnya, perubahan iklim mengacak-acak siklus air, ekosistem, dan memicu cuaca ekstrem.
Artikel Terkait
China Perketat Patroli di Scarborough Shoal, Tanggapi Latihan Militer AS-Filipina
Tragedi di Gumuk Pasir: Pria Jakarta Tewas dengan Luka Misterius, Dua Tersangka Ditahan
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI