Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:06 WIB
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang

Dia mengibaratkan iklim bumi saat ini seperti bola di puncak gunung. Cuma butuh senggolan kecil untuk menjatuhkannya. “Jangan sampai [suhu bumi] lebih dari 2° Celsius, itu nanti akan lebih bahaya lagi [dampaknya] bisa dua kali lipat kondisinya,” tegasnya.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Merujuk Perjanjian Paris, jalan utamanya adalah mencapai Net Zero Emission, di mana jumlah karbon yang dilepas dan diserap jadi nol. Indonesia sebenarnya sudah punya strategi pengurangan emisi. Hanya saja, menurut Erma, eksekusinya belum agresif, terutama dalam hal pembatasan penggunaan energi fosil.

“Secara kebijakan kita masih belum ada pembatasan kendaraan bermotor,” ungkapnya.

Meski begitu, ada upaya lain yang dijalankan, seperti memperbanyak ruang terbuka hijau. Sektor-sektor penyumbang emisi besar didorong menanam pohon dengan target tertentu sebagai bentuk tanggung jawab. Caranya dengan memperbanyak hutan, karena pepohonan adalah penyerap CO2 yang andal.

“Setiap jenis pohon itu punya hitungan karbon masing-masing, seberapa efektif pohon tersebut menyerap karbon. Itu penting, jadi jangan dianggap semua pohon itu sama,” kata Erma.

KLHK Buru-buru Evaluasi Tata Ruang

Di tengah tekanan ini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) tak tinggal diam. Mereka sedang mengevaluasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) tata ruang di sejumlah provinsi yang lanskapnya dinilai rentan. Rencana tata ruang lama dianggap sudah tak memadai lagi untuk menahan dampak bencana yang kian parah.

“Kemudian yang terakhir, kami juga sedang melakukan evaluasi kajian lingkungan hidup strategis tata ruang pada tiga provinsi. Sebenarnya kita lakukan pada empat provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Bali,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI.

“Sangat ringkih lanskapnya memerlukan kita bertindak cepat untuk melakukan evaluasi kembali terhadap kajian lingkungan hidup strategis,” tambahnya.

KLHK menargetkan analisis KLHS itu selesai dalam tiga bulan ke depan. Hasilnya akan jadi acuan bagi pemda untuk meninjau ulang rencana tata ruang, khususnya di daerah rawan.

“Karena Indonesia berada di negara tropis, tentu merupakan suatu negara yang sangat rentan dengan perubahan iklim, apalagi dengan bentuk lanskap kita yang merupakan lanskap kepulauan dan bukan kontinen, sehingga sangat mudah sekali mendapat tekanan dari perubahan iklim, baik itu berupa hidrometeorologi maupun kenaikan permukaan air laut,” tutup Hanif.

Reporter: Safina Azzahra Rona Imani


Halaman:

Komentar