Imigrasi Bongkar Sindikat Penipuan Cinta Pakai AI, Targetkan Warga Korea

- Senin, 19 Januari 2026 | 12:48 WIB
Imigrasi Bongkar Sindikat Penipuan Cinta Pakai AI, Targetkan Warga Korea

Operasi pengawasan yang digelar Imigrasi di Tangerang awal Januari lalu berbuah kejutan. Bukan sekadar pelanggaran visa biasa, tapi jaringannya menyapu sebuah sindikat penipuan cinta berskala internasional. Yang mencengangkan, modus mereka canggih sekali: memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun hubungan emosional palsu.

Menurut keterangan pejabat, sindikat ini sasarannya spesifik. Mayoritas korbannya adalah warga Korea Selatan yang berada di luar Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, membeberkan cara kerja mereka dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (19/1).

“Para pelaku menghubungi calon korban melalui aplikasi Telegram dan aplikasi lain yang terhubung dengan sistem AI yang dimodifikasi, yaitu aplikasi HelloGPT, yang dapat membantu membalas pesan secara otomatis,” kata Yuldi.

Jadi, percakapan mesra yang dirasakan korban itu sebenarnya banyak diotomasi oleh bot. Teknologi dipakai untuk menjaga komunikasi tetap intens, 24 jam jika perlu, tanpa kelelahan.

Namun begitu, langkah awal tetap melibatkan manusia. Data pribadi calon korban dikumpulkan lebih dulu. Setelah target terkunci, barulah permainan dimulai.

“Pelaku menghubungi calon korban dengan mengaku sebagai seorang wanita muda dan membangun hubungan emosional, mengirimkan pesan dan berkomunikasi secara intens,” ujarnya.

Kedekatan yang dibangun bertahap itu akhirnya bermuara pada jebakan. Korban dirayu untuk melakukan panggilan video berbau seksual. Dan tanpa mereka sadari, momen intim itu direkam.

Rekaman itulah senjata utamanya.

“Rekaman video tersebut kemudian digunakan untuk melakukan pemerasan ataupun blackmail dengan tujuan memperoleh sejumlah uang dari korban,” tegas Yuldi.

Operasi yang berlangsung dari 8 hingga 16 Januari itu berhasil mencegahkan 27 warga negara asing. Mereka beraksi secara tertutup, jauh dari keramaian, untuk meminimalkan kecurigaan. Lokasinya tersebar di Tangerang dan Tangerang Selatan.

Dari penggerebekan, puluhan laptop dan komputer disita. Tidak tanggung-tanggung, ratusan ponsel serta perangkat jaringan internet juga diamankan petugas. Semua barang bukti digital itu kini sedang diteliti lebih lanjut.

“Direktorat Jenderal Imigrasi melalui tim Digital Forensik, Direktorat Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian telah menggunakan teknologi yang cukup secara saintifik dan mampu mendukung tugas dalam melaksanakan penegakan hukum keimigrasian guna mengumpulkan bukti-bukti pendukung dari perangkat yang digunakan oleh pelaku di Indonesia,” jelas Yuldi mengenai langkah lanjutan penyelidikan.

Kasus ini memperlihatkan evolusi kejahatan siber yang makin mengkhawatirkan. Di satu sisi, teknologi AI memudahkan hidup. Di sisi lain, di tangan yang salah, ia bisa menjadi alat manipulasi yang sangat efektif dan merusak.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar