Operasi pengawasan yang digelar Imigrasi di Tangerang awal Januari lalu berbuah kejutan. Bukan sekadar pelanggaran visa biasa, tapi jaringannya menyapu sebuah sindikat penipuan cinta berskala internasional. Yang mencengangkan, modus mereka canggih sekali: memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun hubungan emosional palsu.
Menurut keterangan pejabat, sindikat ini sasarannya spesifik. Mayoritas korbannya adalah warga Korea Selatan yang berada di luar Indonesia.
Plt. Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, membeberkan cara kerja mereka dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (19/1).
“Para pelaku menghubungi calon korban melalui aplikasi Telegram dan aplikasi lain yang terhubung dengan sistem AI yang dimodifikasi, yaitu aplikasi HelloGPT, yang dapat membantu membalas pesan secara otomatis,” kata Yuldi.
Jadi, percakapan mesra yang dirasakan korban itu sebenarnya banyak diotomasi oleh bot. Teknologi dipakai untuk menjaga komunikasi tetap intens, 24 jam jika perlu, tanpa kelelahan.
Namun begitu, langkah awal tetap melibatkan manusia. Data pribadi calon korban dikumpulkan lebih dulu. Setelah target terkunci, barulah permainan dimulai.
“Pelaku menghubungi calon korban dengan mengaku sebagai seorang wanita muda dan membangun hubungan emosional, mengirimkan pesan dan berkomunikasi secara intens,” ujarnya.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi: e-Voting Perlu Kajian Mendalam, Jangan Asal Tiru Negara Lain
Dasco Buka Peluang E-Voting di Pemilu, Tapi Ingatkan Bahaya Kreativitas Hasil
Kumparan Rayakan 9 Tahun dengan Live Seru dan Hadiah Rp 99 Juta
Revisi UU Perlindungan Saksi dan Korban Dikebut, Sorotan Kuat untuk Atur Child Grooming