Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri

- Minggu, 01 Februari 2026 | 13:06 WIB
Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri

Ini justru menunjukkan kejujuran pemerintah. Mereka terbuka soal keterbatasan kapasitasnya di fase awal krisis. Bukan kelemahan, tapi tata kelola yang fungsional.

Apa Saja Isi Tas Darurat Itu?

Panduan resminya menganjurkan tiga hal: siapkan tas siaga 72 jam, buat rencana darurat keluarga, dan jalin solidaritas dengan tetangga.

Nah, soal isi tasnya sendiri cukup detail dan praktis:

  • Air minum minimal 3 liter per orang per hari.

  • Makanan tahan lama seperti kalengan, kacang, atau buah kering.

  • Jangan lupa makanan bayi dan pakan hewan peliharaan jika ada.

  • Perlengkapan kebersihan: hand sanitizer, tisu basah, tisu toilet, pembalut.

  • Selimut penghangat.

  • Senter plus baterai cadangan.

  • Lilin dan korek api.

  • Radio bertenaga baterai.

  • Power bank yang selalu terisi penuh.

  • Uang tunai (disarankan €70 untuk dewasa, €30 per anak).

  • Salinan dokumen penting seperti KTP atau paspor.

  • Peta lingkungan sekitar.

  • Daftar nomor telepon penting.

  • P3K lengkap dengan panduan penggunaannya.

  • Peluit untuk tanda darurat.

  • Perkakas sederhana: palu, gergaji, atau tang.

  • Kunci cadangan rumah dan mobil.

Semua barang ini sebaiknya dikemas dalam satu tas khusus yang mudah dijinjing. Dan jangan lupa, periksa isinya setiap enam bulan sekali. Siapa tahu ada yang kedaluwarsa atau baterainya soak.

Bagaimana dengan Kita di Indonesia?

Melihat frekuensi bencana di tanah air akhir-akhir ini banjir, longsor, gempa, kebakaran hutan muncul pertanyaan mendasar. Bukan pertanyaan yang bernada menakut-nakuti, tapi lebih kepada refleksi.

Apakah kesiapsiagaan seharusnya sudah jadi bagian dari budaya kita sehari-hari?

Pertanyaan ini penting. Bukan untuk menyebar kepanikan atau narasi perang, tapi untuk membangun ketahanan dasar masyarakat. Di dunia yang penuh disrupsi ini, pertanyaannya bukan lagi apakah situasi darurat akan terjadi.

Tapi, seberapa siap kita menghadapinya saat ia datang?

Kesiapsiagaan, pada akhirnya, adalah cara kita membangun masyarakat yang lebih tangguh. Bukan cuma menunggu bantuan, tapi mampu bertahan saat segala sesuatu berhenti bekerja.


Halaman:

Komentar