Korban jiwa dalam kebakaran maut di apartemen Hong Kong terus bertambah. Hingga Senin (1/12) sore, polisi setempat mengonfirmasi angka kematian telah mencapai 146 orang. Angka ini, sayangnya, masih mungkin bertambah.
“Hingga pukul 16.00, jumlah korban tewas baru mencapai 146. Kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan adanya korban tewas lebih lanjut,”
kata Inspektur Tsang Shuk-yin dari unit investigasi korban kepolisian Hong Kong. Pernyataannya dikutip dari AFP, Senin itu. Pencarian jenazah memang masih berlangsung, diperluas ke tiga gedung lain di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po.
Di lokasi yang sama, suasana duka terasa begitu pekat. Lebih dari seribu orang datang berbondong-bondong, hanya untuk sekadar memberi penghormatan terakhir. Mereka berdiri hening, memandangi puing yang masih menyisakan kepedihan.
Sementara proses duka berlangsung, penyelidikan justru semakin mengerucut. Badan antikorupsi Hong Kong (ICAC) bergerak cepat. Mereka telah menangkap 11 orang sejauh ini, terkait dengan kasus kebakaran terparah sejak 1980 ini. Aparat juga membentuk satuan tugas khusus untuk mengusut apa yang sebenarnya terjadi.
Dari tangkapan terbaru, ICAC meringkus 8 orang lagi. Mereka adalah konsultan, subkontraktor perancah, dan perantara proyek renovasi di Wang Fuk Court. Usia mereka berkisar 40 hingga 63 tahun.
Meski belum membeberkan detail tuduhan, penyelidik telah menyita banyak dokumen kerja dan catatan bank dari 13 lokasi berbeda. Semua ini dilakukan untuk mengungkap apakah ada kelalaian atau malpraktik dalam proyek renovasi itu.
Dampak tragedi ini pun merembet luas. Departemen Bangunan Hong Kong tak mau ambil risiko. Mereka memutuskan untuk menangguhkan sementara pekerjaan di 30 proyek bangunan lain di seluruh kota. Langkah pencegahan, jelas, sangat diperlukan.
Artikel Terkait
Dari Kegelapan Guantanamo, Seorang Sipir Menemukan Cahaya Islam
Di Tengah Gempuran Standar 2026, Menjadi Biasa Saja Justru Sebuah Pemberontakan
Sopir Fortuner Relakan Mobil Ringsek Demi Selamatkan Nyawa di Depok
Target Zero Accident MBG 2026 Terganjal 1.242 Kasus Keracunan di Januari