"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup"
Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang meledak dari alam bawah sadar. Sebuah luapan batin yang tak bisa dia kendalikan lagi. Dan publik merekam semua itu dengan jelas.
Alhasil, bukannya simpati yang datang. Malah, komentar-komentar sinis bertebaran. Banyak yang bergumam, dalam keadaan seperti itu pun ambisinya masih berkobar. Tak pernah puas. Sudah jadi pengusaha sukses, walikota, gubernur, bahkan presiden. Anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsunya ketua partai. Apa lagi yang kurang?
Ini yang bagi saya luar biasa. Demi ambisi yang tak kenal batas, bahkan penderitaan sakit pun dijadikan komoditas. Dieksploitasi.
Dunia seakan tak pernah cukup baginya. Satu-satunya batas yang mungkin bisa menghentikannya, tampaknya, hanyalah maut.
(@DokterTifa)
Artikel Terkait
Besok di Sentul, Prabowo Buka Rakornas Pusat-Daerah di Hadapan Ribuan Pejabat
Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri
Lantai Ambrol di Tangsi Belanda Siak, Puluhan Pelajar SD Terluka
MSCI Beri Peringatan, Pasar Modal Indonesia di Ambang Degradasi