Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil?
Pertanyaan itu terus bergema. Dia muncul di panggung, berfoto dengan para tokoh, menerima tamu, dan berkeliling ke sana-sini. Tapi ada satu tempat yang sepertinya tak pernah dia datangi: pengadilan.
Nah, menurut saya, jawabannya sederhana. Ini soal strategi. Dia sedang memainkan peran sebagai korban.
Dia merasa terus-menerus "dianiaya" oleh RRT. Dipermalukan dan direndahkan, apalagi di saat kondisi fisiknya sedang tak prima. Itulah narasi yang coba dibangun.
Jadi, sebenarnya, paksaan diri untuk tampil di panggung PSI itu bukan semata dukungan untuk partai. Bukan. Panggung itu dia jadikan panggung sandiwara untuk menunjukkan dirinya sebagai "si sakit yang terus disakiti". Coba perhatikan baik-baik.
Ucapannya diulang-ulang dengan suara yang serak dan berat:
Artikel Terkait
Besok di Sentul, Prabowo Buka Rakornas Pusat-Daerah di Hadapan Ribuan Pejabat
Buku Darurat Belanda: Bukan Alarm Perang, tapi Ajakan Bertahan Mandiri
Lantai Ambrol di Tangsi Belanda Siak, Puluhan Pelajar SD Terluka
MSCI Beri Peringatan, Pasar Modal Indonesia di Ambang Degradasi