Gunungan sampah masih mendominasi pemandangan di Jalan Kembangan Baru, Jakarta Barat, pada Senin (26/1) pagi. Tumpukan itu berjejer di sepanjang bantaran Kali Mookervart, sebuah sisa-sisa muram dari banjir pekan lalu yang belum juga sirna.
Pantauan di lokasi sekitar pukul setengah sepuluh pagi menunjukkan pemandangan yang suram. Sampah-sampah itu mengular nyaris satu kilometer, membentuk barisan kacau yang memenuhi bahu jalan. Beberapa titik bahkan terlihat seperti bukit kecil, dengan ketinggian yang diperkirakan melebihi dua meter. Isinya? Campur aduk.
Semua jenis barang ada di sana. Plastik-plastik bercampur dengan perabotan rumah tangga yang hancur: kasur basah, lemari kayu yang retak, hingga sofa, meja, dan rak-rak yang sudah tak berbentuk. Di sela-selanya, tercecer pakaian, tas, helm, dan bahkan buku-buku yang hanyut.
Namun begitu, di tengah tumpukan yang bau dan kotor itu, ada aktivitas. Beberapa warga terlihat sibuk membongkar dan memilah. Mereka mencari-cari, berharap menemukan sesuatu yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan milik mereka atau mungkin milik orang lain.
“Kebetulan tadi tatakan kulkas (di rumah) patah. Ini kan kayu pilihan,”
kata Gino, seorang warga berusia 60 tahun, sambil menunjukkan sepotong kayu yang baru ia temukan. Baginya, itu adalah barang berkualitas yang masih berguna.
Motif warga ternyata beragam. Ada yang sekadar mencari pengganti barang yang rusak, seperti Gino. Ada pula yang mengumpulkan pakaian layak pakai untuk dipakai sendiri, atau barang-barang yang masih punya nilai jual. Madiru, 62 tahun, misalnya, tampak cukup beruntung.
“Dapet sepatu, buat kerja,”
ujarnya singkat.
Upaya pembersihan secara resmi pun sebenarnya sudah berjalan. Menjelang pukul sepuluh pagi lebih, petugas Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat terlihat mulai beraksi. Tujuh unit mobil pengangkut sampah disiagakan di lokasi. Menurut Hanif, salah satu petugas berusia 27 tahun, pekerjaan berat ini sudah dimulai sejak hari sebelumnya.
“Diangkat dari kemarin, ada 7 mobil (tiap ngangkat),”
jelasnya.
Fokus mereka saat itu adalah mengangkut sampah-sampah berukuran besar yang menghalangi jalan, seperti sofa dan lemari. Prosesnya lambat, melelahkan, tetapi setidaknya sudah ada tanda-tanda pemulihan. Perlahan-lahan, gunungan itu mulai diurai, meski jalan menuju normal masih terlihat panjang.
Artikel Terkait
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Tewaskan Dua Orang, Puluhan Luka-Luka
PSM Makassar Takluk 2-0 dari Bali United Usai Kartu Merah di Babak Pertama
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu