Pemakaman Kenegaraan Ayatollah Khamenei Ditunda Hingga Akhir Juni Demi Hormati Bulan Muharram

- Jumat, 12 Juni 2026 | 09:20 WIB
Pemakaman Kenegaraan Ayatollah Khamenei Ditunda Hingga Akhir Juni Demi Hormati Bulan Muharram

Pemakaman kenegaraan untuk Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada hari pertama perang Timur Tengah, resmi ditunda hingga akhir Juni atau awal Juli. Keputusan ini diumumkan di tengah situasi politik dan keagamaan yang masih sensitif pasca konflik besar tersebut.

Sebelumnya, Iran menyatakan akan menggelar upacara pemakaman selama tiga hari pada awal Muharram, bulan pertama dalam kalender Islam, yang jatuh pada awal Juni. Namun, rencana itu berubah setelah pemerintah mempertimbangkan aspek spiritual dan sosial masyarakat.

Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Fars, menjelaskan bahwa pemakaman kenegaraan ditunda hingga setelah sepuluh hari pertama Muharram. Penundaan ini bertujuan memberi kesempatan kepada umat Islam untuk menyelesaikan masa berkabung tahunan atas wafatnya Imam Hussein, pemimpin Syiah yang gugur dalam pertempuran Karbala pada tahun 680 Masehi.

Hari kesepuluh Muharram, yang dikenal sebagai Hari Asyura, menjadi momen penting bagi umat Islam, khususnya Syiah, untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein bin Ali RA. Tahun ini, Hari Asyura diperkirakan jatuh pada 25 atau 26 Juni. Dengan demikian, pemakaman Khamenei akan berlangsung pada sepuluh hari kedua bulan Muharram, yakni antara 26 Juni hingga 5 Juli.

Para pejabat Teheran sebelumnya memperkirakan bahwa sebanyak 20 juta orang akan hadir dalam prosesi pemakaman tersebut. Angka ini menunjukkan besarnya pengaruh dan dukungan terhadap mendiang pemimpin yang telah memimpin Republik Islam selama hampir 37 tahun.

Ayatollah Ali Khamenei tewas di kediamannya di pusat Teheran pada 28 Februari. Upacara pemakaman kenegaraan yang semula dijadwalkan pada 4 Maret harus ditunda akibat pecahnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar