Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi

- Kamis, 29 Januari 2026 | 23:06 WIB
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi

Malam ini, saat mata ini tak kunjung terpejam dan jarum jam hampir menunjuk pukul satu, pikiranku melayang ke semua tempat yang pernah kita kunjungi bersama.

Ke Pasar Buku Palasari, di hari-hari awal aku menggandeng tanganmu sambil memilah novel tua. Lalu berakhir makan siang di warung Sunda.

Ke bangku taman di Braga, saat aku mencuri pandang dan mengecup keningmu tepat saat matahari terbenam. Kau menjambak rambutku, lalu kita berpelukan.

Ke lapangan Gasibu tiap Sabtu, saat kita ikut jogging bersama puluhan kaum urban. Padahal kita berdua tahu, tujuan sebenarnya cuma ingin menghabiskan waktu di setiap sudut kota. Jogging cuma kamuflase.

Ke warung-warung di Tamansari, ke semua tempat yang pernah kita jejaki. Ah, mengingat semua itu membuat pikiranku tetap sibuk di malam yang seharusnya tenang.

Ke kafe di Dago Atas, tempat kita bisa memandang Bandung dengan segala kemewahannya. Tempat itu jadi saksi bisu kita terjebak dalam jeratan dosa masa lalu.

Tapi, sudahlah. Aku tak ingin merinci lebih jauh. Biarlah ini kita simpan dalam hati yang terluka. Kau pun pasti tak suka mengingatnya. Saat kita lupa segalanya, di malam ketika keringat kita beradu.

Oh iya, Bandung dan segala kesalahannya yang justru kurindukan. Brengsek, memang.

"Aku tidak terlalu suka Bandung. Sudah terlalu padat."

Itu keluhanmu tiap kali jenuh dengan rutinitas di sini.

Ada satu hal lagi. Kau tahu aku masih suka menulis surat untukmu. Isinya hal-hal absurd, sekadar berusaha membuatmu tersenyum.

Kuharap tumpukan surat-surat itu masih kau simpan rapi di kamar kosmu. Mungkin kau baca suatu hari nanti, setelah kau pergi dari Bandung.

Dan sekali lagi mungkin ini yang terakhir aku menyapamu lewat rindu di malam yang semakin hening ini.

Kau tahu, dalam tulisan-tulisan lapukku, aku akan selalu menjumpaimu.

Kau juga paham, aku bukan orang yang punya keahlian mentereng. Berkali-kali belajar musik, gagal. Mencoba melukis, juga tak jadi-jadi. Tak banyak hal yang bisa kubanggakan.

Tapi di satu malam, saat aku mengeluh tentang semua itu, kau menitipkan pesan yang akan tetap kupatuhi.

"Menulislah. Bukan untuk dibaca orang lain, tapi agar kau paham siapa dirimu sendiri. Menulis mungkin tak membuatmu kaya atau terkenal. Tapi setidaknya, kau jadi mengenali dirimu."

Kau menasihatiku sesuatu yang kau sendiri malas melakukannya. Aku ingat, terakhir kau coba menulis puisi tentang kampus kita. Kau sendiri yang bilang jijik membacanya.

"Tulisan sampah."

Begitu katamu.

Namun kini aku sadar. Kau memaksaku menulis sebagai bentuk penyembuhan atas luka yang kau tinggalkan.

Tadi siang, saat kau menikmati matcha di sudut Mokopi, itu adalah kali terakhir aku memandangimu. Kabarnya, kau menerima tawaran orang tuamu untuk pulang kampung. Lalu menikah dengan teman kelasmu cinta pertamamu.

Mungkin orang akan menganggap ini cerita khayalan. Tapi kita berdua yang tahu rahasianya. Apa yang tertulis sebagai fiksi, hanyalah cara kami menyamarkan kisah asmara yang tak berakhir bahagia. Bahkan berujung luka.

Meski begitu, aku tetap bahagia pernah mengenalmu selama dua tahun. Itu masa-masa ketika aku masih sangat asing dengan kota ini.

Selamat tinggal, Kirana. Gadis Sunda yang memaksaku tak menyesali khilaf yang kusengaja.
Selamat tinggal, pada hati yang pernah menyimpan kenangan-kenangan di Bandung.


Halaman:

Komentar