Video itu beredar cepat, memicu amarah. Seorang kakek penjual es gabus dikabarkan dianiaya oleh oknum aparat. Tak butuh waktu lama, kasus ini pun menyulut perdebatan panas soal perlindungan warga kecil dan konsistensi penegakan hukum di negeri ini.
Di tengah riuhnya komentar publik, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea ikut menyuarakan pendapatnya. Lewat unggahan di media sosial, ia justru menyoroti sesuatu yang menurutnya janggal. Bukan cuma soal kekerasannya, tapi respons yang muncul setelah kejadian itu viral.
Pelukan yang Mengundang Tanya
Hotman terang-terangan kecewa. Ia menyorot aksi aparat yang datang memeluk korban setelah video penganiayaan menyebar. Baginya, tindakan itu terasa lebih seperti pencitraan, sebuah upaya meredam badai kemarahan netizen. Bukan langkah nyata menuju keadilan.
Begitu katanya dalam video pernyataannya. Intinya, gestur emosional semacam itu tak bisa menghapus memori pukulan dan perlakuan kasar yang sudah terlanjur terjadi. Masyarakat, menurut Hotman, jangan sampai terbuai.
Nadanya tegas, penuh ketidakpercayaan. Ia juga khawatir dengan kondisi korban. Sebagai warga yang secara ekonomi terbatas, sangat mungkin sang kakek terdorong untuk menerima perdamaian demi sekadar menyudahi masalah. Padahal, tanpa proses hukum yang jelas, ini justru berbahaya.
Artikel Terkait
Viral Es Spons, Pedagang Ini Ungkap Pengeroyokan Preman Sebelum Ditegur Aparat
Kaesang Sambut Rusdi Masse ke PSI, Anaknya yang 19 Tahun Langsung Pimpin Sulsel
Makan Gratis atau Otak Kosong: Ketika Dana Pendidikan Jadi Taruhan
Wamenkes: Virus Nipah Mematikan, Tapi Jangan Panik