Sebagai pengamat, Rocky Gerung tentu tidak asal bicara. Banyak yang menduga, ia punya akses pada informasi-informasi dari dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri. Informasi yang tak bisa dibuka mentah-mentah, lalu diolah dan dibungkus dengan cermat oleh Rocky.
"Ijazahnya asli, pemiliknya yang palsu" – itu mungkin adalah cara membungkus yang paling pas kala itu.
Bayangkan jika sejak awal ia langsung menyerang frontal: ijazahnya palsu, pemiliknya juga palsu. Bisa-bisa imajinasi publik malah tidak terbangun. Rocky akan mudah dicap bermuatan sentimen, bukan sedang berargumen seperti jargon yang sering ia usung.
Tapi sekarang? Kalau pun Rocky hari ini menyatakan ijazahnya palsu, mungkin publik sudah lebih siap menerimanya. Namun, kecil kemungkinan ia akan memberikan kesaksian seperti itu di hadapan penyidik Polda Metro Jaya.
Seperti yang selalu ia tegaskan, kasus ijazah Jokowi ini pada hakikatnya bukan sekadar perkara hukum. Ini adalah persoalan moral.
Pada akhirnya, ini tentang rakyat yang mempertanyakan kejujuran pemimpinnya. Sebuah nilai yang terasa sirna sejak lama, dan hingga detik ini, belum juga kembali.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Granat Menghantam, Kendaraan Baja Selamatkan Wali Kota dari Maut
Melawan Ombak Danau Sentani Demi Kirimkan Makanan Bergizi ke Pulau-pulau Terpencil
Potongan Video Prabowo Soal Israel Beredar, Padahal Pernyataan Lengkapnya Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Foto Perbandingan Rapat Kabinet: Pelajaran untuk Generasi Muda yang Nanti Memegang Tampuk