Jangan dikira ini cuma kasus sekali jalan. Ini polanya terstruktur, terjadi di mana-mana. Korban-korbannya bukan cuma pedagang es seperti Sudrajat, tapi juga petani, buruh, mahasiswa, sampai jurnalis. Ini fenomena sehari-hari yang seolah jadi normal. Kita sering bangga bilang masyarakat kita gotong royong, penuh mutual trust, rukun dan harmonis.
Tapi di balik topeng harmoni itu, ada struktur penindasan yang sistematis. Kita bisa berlaku sadis memukul, menendang, melecut kepada orang sekurus Sudrajat. Tapi terhadap maling berdasi atau politikus hitam yang menggerogoti negeri? Hmm, lain cerita. Semuanya demi klaim menjaga ketertiban dan keamanan. Bahkan sampai urusan es kue berbahan spons pun mereka jadi ahli.
Yang ironis, bagaimana dengan zat-zat berbahaya lain yang mungkin lebih rutin dikonsumsi anak-anak kita? Ada yang peduli?
Saya jujur geram melihat perlakuan keji kepada Sudrajat. Tapi dalam hati, saya juga mikir, dia masih beruntung tidak dikeroyok sampai mati. Coba bayangkan kontras hidupnya: seorang lelaki yang mungkin cuma bawa pulang Rp 50 ribu sehari untuk istri dan tiga anaknya, berhadapan dengan dua petugas gemuk yang gajinya mungkin berasal dari pajak orang-orang seperti Sudrajat sendiri.
Pertanyaan besarnya: kenapa negara hadir dengan wajah bengis seperti ini? Kalau kita diam saja, tanpa mempertanyakan, sama saja kita ikut mengawetkan penindasan ini.
(MADE SUPRIATMA)
Artikel Terkait
Granat Menghantam, Kendaraan Baja Selamatkan Wali Kota dari Maut
Melawan Ombak Danau Sentani Demi Kirimkan Makanan Bergizi ke Pulau-pulau Terpencil
Potongan Video Prabowo Soal Israel Beredar, Padahal Pernyataan Lengkapnya Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Foto Perbandingan Rapat Kabinet: Pelajaran untuk Generasi Muda yang Nanti Memegang Tampuk