Es Kue Spons dan Wajah Bengis Negara di Pinggir Jalan

- Rabu, 28 Januari 2026 | 06:40 WIB
Es Kue Spons dan Wajah Bengis Negara di Pinggir Jalan

Coba ingat-ingat lagi masa sekolah dulu. Pasti ada satu atau dua kenangan tentang jajanan yang bikin lidah bergoyang, kan? Entah itu bekal dari rumah, atau jajanan di depan gerbang sekolah yang selalu ramai dikerumuni anak-anak. Harganya murah meriah, rasanya melekat di kepala sampai dewasa.

Nah, soal guru SD, nama beliau mungkin sudah menguap dari ingatan. Tapi soal rasa manisan cerme merah dalam bungkus plastik, atau bakso hangat yang jadi tempat nongkrong pas SMA? Itu susah dilupakan. Pedagangnya sendiri seringkali anonim, cuma jadi bagian dari pemandangan sehari-hari. Kecuali yang punya ciri khas banget. Saya sendiri masih ingat betul Pak Gareng, tukang bakso dekat SD dulu. Tempatnya jadi markas anak SMA. Bagi kami yang masih SD, janggan mikir buat ke sana. Mahal, plus rasanya seperti wilayah terlarang. Baru deh, begitu naik SMA, mampir ke sana jadi semacam 'ritual peralihan'.

Ceritanya jadi lain kalau kita bicara tentang Sudrajat. Pedagang es kue ini tiba-tiba jadi buah bibir. Bukan karena esnya yang istimewa, melainkan karena perlakuan yang dia terima dari aparat. Sebuah video yang beredar luas menunjukkan dua petugas satu polisi, satu tentara menginterogasinya dengan kasar. Mereka menuduhnya menjual es dari bahan spons, seperti busa untuk jok motor.

Dalam video itu, kontrasnya sangat menyayat. Dua petugas berbadan besar, melawan Sudrajat yang bertubuh kurus. Seolah mewakili dua dunia yang berbeda: mereka yang 'dihidupi' negara, dan warga kecil yang cuma ingin dicuekin saja oleh negara. Polisi yang bertugas, Aipda Ikhwan Mulyadi, bersikeras dengan tuduhannya. Sudrajat membantah, malah menantang untuk dicek ke pabriknya di Depok. Bukannya tenang, sang polisi malah makin panas.

Yang bikin geram, ada lagi seorang Babinsa yang ikut serta. Dialah yang terlihat paling beringas, menghardik dan memaksa Sudrajat memakan es jualannya sendiri. Sorot mata Sudrajat di video itu bicara banyak. Ada rasa sakit hati, penghinaan, dan ketakutan. Belakangan, Sudrajat mengaku bukan cuma dihina, tapi juga ditendang dan dipukul pakai selang. Bahkan warga sekitar ikut-ikutan main hakim sendiri.

Si polisi sudah minta maaf, meski kita belum tahu konsekuensi hukumnya. Tapi si tentara? Sepertinya hilang begitu saja dari perbincangan. Mungkin karena dia bagian dari institusi yang sedang punya peran di mana-mana.


Halaman:

Komentar