Sumeleh: Seni Meletakkan Beban di Era yang Tak Pernah Berhenti Berdering

- Rabu, 28 Januari 2026 | 02:06 WIB
Sumeleh: Seni Meletakkan Beban di Era yang Tak Pernah Berhenti Berdering

Pikiran kita sering kalut karena terlalu khawatir tentang masa depan yang belum terjadi, atau terperangkap menyesali hal-hal yang sudah lewat. Lihat pencapaian orang lain di Instagram, langsung merasa diri kurang. Kecemasan digital itu nyata adanya.

Nah, sikap sumeleh hadir sebagai penangkalnya. Ia berfungsi seperti rem darurat saat pikiran kita melaju kencang tanpa kendali. Mempraktikkan sumeleh pada dasarnya adalah berbicara pada diri sendiri:

"Sudah, bagian saya sudah saya lakukan dengan baik hari ini. Untuk sisanya, saya serahkan. Biarkan alam semesta yang mengatur."

Efeknya ke Pikiran dan Tubuh

Dari kacamata sains, kondisi sumeleh ini mirip dengan keadaan mindfulness atau flow. Saat seseorang benar-benar bisa 'meletakkan' bebannya, gelombang otaknya perlahan turun dari frekuensi Beta yang identik dengan siaga dan stres menuju Alpha, kondisi yang lebih rileks dan tenang. Justru di frekuensi inilah kreativitas dan kejernihan berpikir muncul.

Jadi, sumeleh sama sekali bukan pertanda kelemahan. Justru sebaliknya, ini adalah tanda kedewasaan mental dan spiritual. Kemampuan untuk tetap tenang meski badai datang, untuk berdamai dengan segala ketidakpastian hidup.

Mungkin di tengah kebisingan dunia digital ini, kita perlu sesekali berhenti. Ambil napas, duduk sejenak, dan belajar pada ilmu kuno ini. Cobalah untuk 'meletakkan' apa yang tak perlu kita pikul terus-menerus. Bagaimanapun, bahu kita diciptakan bukan untuk menanggung seluruh beban dunia, tapi untuk bersujud dengan ikhlas dan bekerja secukupnya.

Rahayu.


Halaman:

Komentar