Suara mesin alat berat menggema di Tempat Pemakaman Umum Kebon Nanas, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Selasa lalu. Di bawah sorot matahari, petugas dengan sigap mengoperasikan mesin-mesin itu untuk membongkar satu per satu permukiman liar yang berdiri di atas lahan itu.
Ini bukan aksi spontan. Pemerintah Kota Jakarta Timur memang sedang gencar melakukan penertiban. Tujuannya jelas: mengembalikan fungsi lahan makam yang sempat 'tersandera' oleh hunian ilegal.
Latar belakangnya, Jakarta darurat lahan pemakaman. Tekanan itu yang mendorong pemkot bergerak cepat. Dengan dibersihkannya lokasi ini, diharapkan bisa menyediakan sekitar 2.500 petak makam baru. Angka yang cukup signifikan untuk meredam antrean panjang keluarga yang berduka.
Seorang petugas di lokasi, yang enggan disebutkan namanya, mengaku prosesnya berjalan lancar.
"Kita sudah sosialisasi jauh-jauh hari. Alhamdulillah, warga yang terdampak sudah kooperatif dan pindah lebih dulu," ujarnya sambil menunjuk ke tumpukan puing bekas bangunan.
Memang, upaya penambahan lahan makam seperti ini ibarat mencari udara segar di tengah kepadatan ibukota. Di sisi lain, langkah penertiban juga memunculkan cerita lain tentang sulitnya mencari tempat tinggal yang terjangkau. Namun begitu, untuk saat ini, fokus utama adalah menyelesaikan persoalan yang mendesak: menyediakan ruang terakhir bagi warga yang meninggal.
Pemandangan di TPU Kebon Nanas kini berubah. Dari permukiman padat, perlahan berubah menjadi hamparan tanah yang siap ditata. Sebuah transformasi yang pahit bagi sebagian orang, tapi dianggap solusi bagi banyak pihak lainnya.
Artikel Terkait
Petani Papua Siap Bergabung dalam Program Cetak Sawah, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp5 Triliun
Guru Besar Hukum UI Kritik Gaya Kepemimpinan Prabowo: Presiden Dinilai Abaikan Peran Teknokrat dan Birokrasi Kemlu
Guru Besar UI Kritik Ketidakselarasan Kebijakan Luar Negeri Prabowo dengan Aspirasi Publik
Pemerintah Siapkan Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis dan Dorong Ekonomi Restoratif