Intinya jelas: Teheran tak akan lagi membeda-bedakan jenis serangan. Apapun bentuknya, itu akan dianggap sebagai deklarasi perang total.
Di sisi lain, dari Washington, Presiden Donald Trump punya nada yang sedikit berbeda. Ia bilang berharap kekuatan yang dikerahkan itu tak perlu sampai digunakan. Tapi, ya, Trump tetap Trump. Ia juga melontarkan peringatan keras soal program nuklir Iran dan penanganan demonstrasi di dalam negeri mereka. Sikapnya yang ambivalen ini tunjukkan taring tapi bilang tidak mau berkelahi justru bikin suasana makin keruh dan tidak menentu.
Bagi Iran, situasi ini adalah puncak dari tekanan yang sudah lama mereka tanggung. Dikepung sanksi ekonomi dan ancaman militer AS, mereka merasa tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa memobilisasi semua kemampuan pertahanan yang dimiliki. Militer Iran dikabarkan sudah menyiapkan berbagai skenario terburuk, semua demi menjaga kedaulatan wilayahnya.
Ini sebenarnya adalah babak baru dari sebuah ketegangan panjang. Semuanya makin runyam sejak AS memutuskan keluar dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018. Kehadiran armada AS kali ini bukan cuma soal kekuatan militer belaka. Lebih dari itu, ini adalah pesan politik yang sangat berisiko. Satu langkah salah bisa memicu respons berantai, yang ujung-ujungnya berpotensi memicu konfrontasi terbuka. Dan konsekuensinya? Stabilitas regional yang bisa hancur berantakan.
Artikel Terkait
Board of Piece Trump: Ambisi Monopoli Rekonstruksi Gaza yang Rapuh
Wali Kota Metro Siapkan Lahan 7 Hektare untuk Sekolah Rakyat Presiden
Polri Tetap di Bawah Presiden, DPR Soroti Reformasi Kultural
Kemendikdasmen Perkuat Upacara Bendera dengan Ikrar Pelajar dan Lagu Kebersamaan