Sudah lebih dari dua dekade, asap kendaraan bermotor menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari Ulina Silolo. Perempuan 52 tahun ini adalah penyapu jalanan di Kota Medan, sebuah pekerjaan yang dijalankannya sejak 2001. Terik matahari Medan jelas tak bersahabat, membuat keringatnya terus bercucuran. Tapi, semangatnya untuk mencari nafkah tak pernah surut.
Kehidupan memang tak mudah baginya. Setelah ditinggal suami, Ulina menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Namun, dari profesi yang dianggap banyak orang remeh ini, ia justru berhasil mengantarkan kelima anaknya ke bangku sekolah. Pencapaian yang luar biasa. Salah satunya bahkan berhasil meraih gelar Sarjana Biologi dari Universitas Pelita Harapan di Jakarta.
“Yang penting kerja halal, bukan koruptor,” ujar Ulina suatu Senin di akhir Januari.
Anak itu mendapatkan beasiswa penuh, dari semester pertama hingga wisuda. Tapi perjuangan Ulina belum usai. Ia masih harus membiayai anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA. Dengan penghasilan sekitar tiga juta rupiah per bulan dari menyapu jalan, ia terus bekerja keras.
Menurutnya, anak-anaknya justru bangga dengan pilihan ibunya. “Enggak ada (melarang), anak saya bangga. Karena memang kemauan kan. Kalau enggak kerja mau ngapain coba, penghasilannya dari mana? Kan masih butuh makan. Adiknya masih ada dua lagi yang sekolah,” tuturnya.
Setiap hari, dari rumahnya di Simalingkar, Ulina menghabiskan waktu satu jam perjalanan untuk sampai ke lokasi kerjanya. Sebuah ritual yang dijalaninya dengan ikhlas.
Pesan untuk Anak Muda
Dari pengalaman hidupnya yang keras, Ulina punya pesan khusus, terutama untuk para perempuan. Ia menekankan pentingnya meratukan diri sendiri sebelum memutuskan untuk menikah. Mengejar karier dulu, katanya.
“Ratukan diri sendiri. Karena banyak kasus menikah muda, kasihan. Dia kasihan, anaknya kasihan karena belum bisa kelola emosi tadi, belum punya pendapatan enak,” jelasnya.
Pesan lainnya ditujukan untuk generasi muda secara umum. Baginya, kunci utama adalah pantang menyerah dan mengelola emosi. “Sama kayak bayi, pertamanya kan masih kecil dulu, belum pandai ngapa-ngapain. Belajar, jatuh, bangun lagi, jatuh, bangun lagi. Jangan nyerah, kalau nyerah ya selesai,” ucap Ulina dengan bijak.
Ia melihat kecenderungan yang berbeda pada anak muda zaman sekarang. “Kalau anak-anak muda sekarang ini, kadang-kadang kalau kerja dibentak sedikit mewek, nangis, marah, emosi. Pandai-pandai mengelola emosi,” tutupnya. Sebuah nasihat sederhana dari seorang ibu yang telah membuktikan ketangguhannya di jalanan yang terik.
Artikel Terkait
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Tewaskan Dua Orang, Puluhan Luka-Luka
PSM Makassar Takluk 2-0 dari Bali United Usai Kartu Merah di Babak Pertama
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu