Diplomasi Prabowo di Tengah Badai Palestina dan Polemik Forum Trump

- Senin, 26 Januari 2026 | 06:00 WIB
Diplomasi Prabowo di Tengah Badai Palestina dan Polemik Forum Trump

Antara Diplomasi, Persepsi, dan Sensasi: Membaca Arah Politik Luar Negeri Prabowo

Perdebatan soal arah politik luar negeri kita kembali memanas. Kali ini, sorotan tajam mengarah ke Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah tokoh dan akademisi mulai bersuara, khawatir langkah-langkah diplomatiknya berpotensi melenceng dari prinsip bebas aktif yang sudah jadi pedoman sejak dulu. Pemicunya? Narasi yang beredar tentang perhatiannya pada keamanan Israel, sementara penderitaan Palestina seolah terabaikan. Ditambah lagi, kabar tentang keikutsertaannya dalam sebuah forum perdamaian dunia yang dikait-kaitkan dengan Donald Trump. Semua ini menciptakan kegaduhan yang tak sederhana.

Media pun ramai-ramai memberitakannya dengan judul-judul yang emosional dan provokatif. Publik terbelah. Ada yang melihat ini sebagai alarm bahaya, tanda Indonesia mulai goyah dalam membela Palestina. Tapi tak sedikit yang menilai tudingan itu terlalu gegabah, sekadar bising politik domestik yang mencari celah. Di tengah situasi seperti ini, kita perlu hati-hati. Menilai politik luar negeri hanya dari potongan berita, asosiasi simbolik, atau framing media yang dangkal itu jelas berisiko. Realitas diplomasi internasional jauh lebih ruwet dari itu.

Solidaritas Palestina: Bukan Sekadar Slogan

Dukungan Indonesia untuk Palestina punya akar yang dalam. Ini bukan sikap pragmatis atau cari muka di forum internasional. Fondasinya konstitusional, historis, dan moral. Sejak merdeka, Indonesia menentang penjajahan dalam bentuk apapun. Prinsip itu tertuang jelas dalam Pembukaan UUD 1945 dan jadi benang merah kebijakan luar negeri, lintas rezim.

Nah, dalam konteks itu, tudingan bahwa seorang presiden bisa dengan mudah menggeser sikap fundamental ini cuma karena satu dua langkah diplomatik, terdengar agak tergesa-gesa. Faktanya, sampai sekarang belum ada kebijakan resmi, pernyataan negara, atau keputusan strategis yang menunjukkan Indonesia menarik dukungannya ke Palestina. Yang terjadi justru interpretasi berlebihan. Kehadiran di suatu forum internasional langsung ditarik menjadi kesimpulan politik yang bombastis.

Kritik moral terhadap pemimpin itu sah, bahkan penting untuk demokrasi. Tapi kekuatannya akan luntur kalau hanya berdiri di atas asumsi dan persepsi, bukan fakta dan kebijakan nyata. Menggambarkan diplomasi Indonesia sudah "berpihak" hanya karena membuka dialog, adalah penyederhanaan yang berbahaya. Hubungan internasional itu kompleks, tidak hitam putih.

Bebas Aktif: Sering Dijadikan Mantra, Tapi Kurang Dipahami

Istilah "politik luar negeri bebas aktif" selalu muncul dalam kritik terhadap Prabowo. Sayangnya, istilah ini kerap jadi mantra normatif. Banyak yang lupa, atau mungkin tak paham, bagaimana menerjemahkannya dalam praktik diplomasi yang modern dan cair.

Bebas aktif bukan berarti menutup diri, menjauhi kekuatan besar, atau menghindari aktor kontroversial. Justru sebaliknya. Prinsip ini menuntut kemampuan untuk berinteraksi dengan siapa pun, tanpa kehilangan kemandirian sikap dan kepentingan nasional. Di dunia yang semakin multipolar ini, mengisolasi diri dari semua pusat kekuasaan bukan bukti kedaulatan, melainkan resep untuk terpinggirkan.

Sejarah kita menunjukkan, hubungan dengan AS, Rusia, Tiongkok, atau Eropa selalu terjalin di berbagai pemerintahan. Itu tidak serta-merta menghilangkan independensi kita. Kuncinya bukan pada "siapa yang diajak bicara", tapi "posisi apa yang kita bawa dan kepentingan apa yang kita perjuangkan" dalam percakapan itu.

Membaca Langkah Prabowo dengan Warna Abu-Abu

Di sinilah kita butuh pandangan yang lebih seimbang, tidak serba hitam-putih. Ambil contoh analisis dari pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah.

Dia menilai keikutsertaan Prabowo dalam Dewan Perdamaian itu punya sisi positif dan negatif. Keduanya harus dibaca dalam kerangka kepentingan nasional kita, konstelasi kekuatan global, plus dinamika konflik Palestina-Israel yang sangat pelik.

"Dengan bergabungnya Indonesia, Prabowo ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak diam, tetapi hadir dalam forum internasional yang membahas perdamaian Palestina," kata Amir kepada wartawan.

Pandangan seperti ini penting. Ia menawarkan sudut baca yang lebih strategis, ketimbang reaksi emosional yang membanjiri ruang publik. Kehadiran di suatu forum tidak selalu sama dengan legitimasi terhadap seluruh agenda forum tersebut. Justru, dengan hadir di dalam, sebuah negara punya peluang untuk menyampaikan sikap yang berbeda, bahkan kritis.

Trump dan Beban Simbolik yang Berat

Kita tak bisa memungkiri, nama Donald Trump membawa beban simbolik yang besar, khususnya dalam isu Palestina-Israel. Kebijakannya saat menjabat, seperti memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, meninggalkan luka diplomatik yang dalam bagi rakyat Palestina dan pendukungnya.


Halaman:

Komentar