Masa Depan Bukan Milik yang Punya Data Terbanyak, Tapi yang Tahu Cara Memaknainya

- Senin, 26 Januari 2026 | 04:06 WIB
Masa Depan Bukan Milik yang Punya Data Terbanyak, Tapi yang Tahu Cara Memaknainya

Isu paling krusial dalam strategi data seringkali justru yang paling jarang dibahas: soal tata kelola. Siapa pemilik data? Siapa yang boleh mengakses? Untuk tujuan apa data itu digunakan?

Di masa depan, pertarungan kepentingan tidak hanya terjadi di ladang minyak atau tambang, tapi juga di lautan data. Kebocoran data, penyalahgunaan informasi pribadi, manipulasi algoritma ini semua sudah jadi masalah nyata yang kita hadapi sehari-hari. Tanpa kerangka tata kelola yang kuat, data yang semula aset bisa berbalik jadi bumerang. Kepercayaan publik runtuh, dan seluruh ekosistem digital kehilangan legitimasinya. Strategi data yang baik harus berjalan beriringan dengan perlindungan privasi, transparansi, dan akuntabilitas yang jelas.

Data Butuh Cerita, Bukan Cuma Angka

Ada kesalahan fatal yang sering terjadi: mengira angka bisa bicara sendiri. Kenyataannya, data selalu butuh tafsir. Ia hidup dalam narasi.

Di ruang publik, data baru akan berdampak jika ia bisa diterjemahkan jadi cerita yang masuk akal dan menyentuh pengalaman masyarakat. Tanpa itu, data dengan mudah berubah jadi alat pembenaran kebijakan, bukan sarana untuk memahami persoalan. Masa depan menuntut kolaborasi lintas peran: analis data, pembuat kebijakan, jurnalis, dan pemimpin masyarakat. Data yang kuat tapi dikomunikasikan dengan buruk hanya akan memperlebar jarak dengan publik.

Strategi data juga akan gagal kalau cuma dikuasai segelintir elite teknokrat. Literasi data harus jadi agenda bersama. Para pemimpin perlu paham batasan data, birokrat harus bisa membaca indikator dengan kritis, dan masyarakat perlu punya pemahaman dasar agar tidak gampang dimanipulasi oleh statistik pilih-pilih.

Ke depan, ketimpangan bukan cuma soal ekonomi. Tapi juga soal siapa yang paham data, dan siapa yang tidak.

Menguasai Strategi, Menentukan Arah

Pada akhirnya, data adalah bahasa masa depan. Ia membentuk cara kita melihat dunia dan mengambil keputusan. Tapi tanpa strategi yang jernih, data cuma akan jadi kebisingan yang memekakkan telinga.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah kita punya data?", melainkan "sudah tahukah kita cara memaknainya untuk kepentingan jangka panjang?" Di era ini, siapa yang menguasai strategi data, dialah yang menentukan arah angin akan berhembus ke mana.


Halaman:

Komentar