Kita hidup di zaman yang mengklaim diri modern dan terbuka. Tapi, diam-diam, kita sudah menemukan tuhan baru. Bukan tuhan yang disembah di tempat ibadah, melainkan yang dipuja lewat kamera ponsel dan pantulan kaca. Penampilan fisik kini menduduki posisi yang nyaris sakral. Ia menentukan segalanya: siapa yang dapat perhatian, siapa yang dianggap bernilai, bahkan siapa yang dipandang sebelah mata. Tanpa kita sadari, ini adalah sebuah bentuk penyembahan baru. Penyembahan terhadap citra diri.
Kuil utamanya? Media sosial, tentu saja. Di sanalah kita mempersembahkan ritual harian. Foto dengan sudut terbaik, potret gaya hidup yang sempurna, momen yang sengaja dikurasi agar tampak tanpa cela. Setiap unggahan adalah persembahan. Setiap 'like' yang didapat terasa seperti doa yang dikabulkan. Sementara itu, mereka yang sepi interaksi sering kali merasa gagal, kurang, atau tidak menarik. Lambat laun, nilai seseorang diukur bukan dari karakternya, tapi dari kualitas tampilan luarnya.
Fenomena ini melahirkan sebuah ilusi yang masif. Banyak orang tak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk versi dirinya yang disukai publik. Senyum bukan lagi tanda bahagia, tapi karena kamera sedang merekam. Aktivitas dipilih bukan karena bermakna, tapi karena 'instagramable'. Bahkan kesedihan pun dikemas agar terlihat estetis. Realitas sejati dikorbankan demi penampilan.
Di sisi lain, budaya ini memupuk kebiasaan buruk: menilai orang hanya dari luarnya. Gaya berpakaian, model rambut, tata rias, bahkan cara berjalan, langsung kita jadikan patokan untuk menebak kepribadian. Penampilan mencolok? Langsung dapat label. Tampilan sederhana? Dianggap tidak menarik. Pakaian gelap atau tubuh bertato? Sering dicurigai. Masyarakat seolah lupa, manusia bukan etalase toko yang isinya bisa ditebak dari kemasannya.
Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit. Penampilan hanyalah kulit luar. Ia tak selalu mencerminkan isi hati. Seseorang bisa terlihat sangar lewat pakaiannya, tapi punya hati yang lembut. Sebaliknya, penampilan yang rapi dan religius bisa saja menutupi niat yang busuk. Penampilan bukan bukti mutlak karakter. Ia cuma permukaan.
Masalahnya, dunia sekarang ini terlalu cepat menghakimi. Banyak orang enggan memberi ruang untuk mengenal lebih jauh. Cukup lihat satu foto, satu gaya, lalu langsung memberi cap. Praktik seperti ini bukan cuma keliru, tapi juga berbahaya. Ia melahirkan prasangka, diskriminasi, dan luka sosial yang sebenarnya tak perlu terjadi.
Budaya ini juga menciptakan tekanan luar biasa. Banyak orang jadi takut terlihat berbeda. Takut dianggap aneh. Takut dicap negatif hanya karena tak mengikuti arus mayoritas. Akibatnya, demi diterima, mereka memalsukan diri. Keaslian ditukar dengan kepalsuan sosial. Jati diri dikubur demi aman dari penilaian orang lain.
Industri, tentu saja, mengambil untung besar dari situasi ini. Produk fashion, kosmetik, klinik kecantikan, hingga aplikasi edit foto menjamur. Semuanya menyuarakan pesan yang mirip: kamu belum cukup baik. Kamu perlu diperbaiki. Ketidakpuasan diri dijadikan ladang bisnis yang tak pernah kering. Semakin orang merasa kurang, semakin besar pasar yang terbuka.
Artikel Terkait
Haru di Ueno Zoo: Panda Pulang, Diplomasi Memudar
Masa Depan Bukan Milik yang Punya Data Terbanyak, Tapi yang Tahu Cara Memaknainya
Gemuruh di Tengah Hujan: Longsor Cisarua Tewaskan Puluhan Jiwa
Anggota Komcad Diamankan di Warung Padang Sambian Terkait Senjata Ilegal