Sore Minggu di MT Haryono memang ramai. Kendaraan lalu lalang, tapi ritmenya tak konsisten. Di tengah arus yang seharusnya lancar, banyak pengendara tiba-tiba mengerem atau bermanuver menghindari sesuatu. Penyebabnya? Aspal jalan yang terkelupas, meninggalkan lubang-lubang menganga yang siap mengagetkan.
Perjalanan dari Kuningan menuju Pancoran lalu ke Cawang membuktikan hal itu. Sejak awal, beberapa lubang sudah terlihat. Meski belum terlalu dalam, kehadirannya memaksa setiap orang untuk mengurangi kecepatan. Kalau ngebut sedikit, keseimbangan bisa langsung hilang.
Namun begitu, kondisi justru makin parah setelah flyover Pancoran-Kuningan. Di sini, lubang muncul lebih sering dan lebih ganas. Beberapa di antaranya bersarang tepat di tengah jalur, kedalamannya jelas terasa lebih ekstrem. Pengendara pun tak lagi sekadar waspada, tapi harus terus-terusan mengakali setir atau stang motornya, seperti sedang slalom di tengah jalan raya.
Kerusakan ini masih terbawa hingga ke kawasan Gatot Subroto. Memang, beberapa titik sudah ditambal. Tampak lapisan aspal baru yang warnanya lebih gelap. Sayangnya, tambalan itu seringkali tidak menyelesaikan masalah. Permukaan jalan tetap bergelombang, membuat kendaraan seperti berjalan di atas punggung ular.
Bagi Arif yang berusia 26 tahun, pemandangan seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari. Pria yang rutin melintas MT Haryono untuk kerja ini punya cerita.
“Menurut saya sih ini efek dari hujan-hujan kemarin. Biasanya jalanan oke-oke aja, tapi begitu musim hujan tiba, bolong-bolong ini mulai bermunculan,” ujarnya pada Minggu (25/1).
“Sering juga saya nggak sadar, tiba-tiba "jeglong"! Rasanya ngeri. Motor juga jadi cepat rusak kayaknya,” lanjut Arif.
Dampaknya nyata, bukan cuma soal kenyamanan berkendara. Arif merasakan langsung efeknya pada kendaraannya.
“"Shockbreaker" saya aja kemarin hampir mati, katanya harus diganti. Tapi ya apa daya, harganya mahal jadi ditunda dulu. Itu lho, sampai rusak karena jalanan,” tuturnya.Meski kerap bertemu lubang, Arif bersyukur belum pernah kecelakaan serius. Strateginya sederhana: ekstra hati-hati, apalagi saat hujan.
“Alhamdulillah sih belum. Soalnya kalau hujan saya nggak ngebut, santai aja. Tapi ya tetap aja, kalau nggak lihat ada lubang di depan ya "kagok". Mau nggak mau diterabas,” katanya.Menurut pengamatannya, masalah ini tersebar luas. Bukan cuma di MT Haryono, tapi sepanjang rute yang ia lewati.
“Banyak banget. Ke Gatot Subroto ada, Pancoran banyak, arah Kuningan atau ke Cawang juga ada. Nggak kehitung jumlahnya, yang gede-gede juga nongol.”Sebagai pengguna jalan yang bergantung pada rute ini setiap hari, harapannya jelas: perbaikan jangan ditunda-tunda. Baginya, ini urusan keselamatan.
“Ya diperbaiki saja, jangan ditunggu. Di medsos kan saya lihat banyak yang sampai jatuh. Ngeri kan kalau sampai ada korban? Urusan kayak gini jangan sampai dilambat-lambatin.”“Soalnya ini nyawa yang dipertaruhkan. Jakarta kan jalannya dipakai oleh ribuan orang setiap hari, para pekerja, pengendara, terutama yang naik motor,” tambahnya.Memang, beberapa lubang di MT Haryono arah Kuningan sudah dapat tambalan. Tapi fakta di lapangan bicara lain: jalanan itu belum benar-benar rata. Di tengah riuh rendah ribuan kendaraan yang melintas tiap hari, lubang-lubang itu tetap menjadi bagian dari perjalanan yang tak terhindarkan sebuah rintangan harian yang menguji kesabaran dan kewaspadaan.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Tipis ke Rp2,814 Juta per Gram, Buyback Ikut Terangkat
Korban Tewas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Bertambah Jadi 14 Orang, 84 Luka-Luka
Presiden Prabowo Jenguk Korban Tabrakan Kereta di Bekasi, Pastikan Kompensasi dan Investigasi Tuntas
Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, 7 Tewas dan Puluhan Luka-Luka