Hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak Jumat malam akhirnya memicu bencana di lereng Gunung Slamet. Longsor dan banjir bandang menerjang sejumlah desa di beberapa kabupaten sekitarnya. Situasinya cukup parah, sampai-sampai ratusan warga harus mengungsi. Bahkan, ada korban jiwa yang berjatuhan.
Di Pemalang, satu nyawa melayang akibat luapan sungai yang ganas. Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana, mengonfirmasi hal ini.
"Korban berjenis kelamin laki-laki, berinisial T, warga Dukuh Wanasari, Desa Penakir, Kecamatan Pulosari," jelas Rendy pada Minggu (25/1).
Korban yang terbawa arus deras Kali Penakir itu ditemukan warga di jembatan sungai wilayah Dukuh Tretep, Sabtu dini hari. Evakuasi pun segera dilakukan.
"Setelah menerima laporan dari warga, tim SAR gabungan bersama Polsek dan Koramil Moga langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit Muhammadiyah Rodliyah Achid Moga, Pemalang," tambah Kapolres.
Tak hanya itu, sedikitnya 92 warga lain dari Desa Penakir juga terpaksa dievakuasi ke Kantor Kecamatan Pulosari. Pihak berwenang kini berkoordinasi mendirikan posko darurat dan membersihkan material banjir yang memenuhi lokasi.
Dampaknya ternyata meluas. Di Purbalingga, banjir bandang menyapu Desa Serang dan Kutabawa setelah sungai meluap. Akses jalan menuju dua dusun terpencil pun terputus, terisolasi oleh tumpukan material.
Kepala BPBD Purbalingga, Revon Hapinindriat, memberikan gambaran tentang pengungsian.
“Data sementara pengungsi di Desa Kutabawa, Dusun Bambangan RT 019 RW 05 sebanyak 14 rumah atau 21 kepala keluarga dengan 79 jiwa, serta RT 017 RW 05 sebanyak 10 kepala keluarga dengan 31 jiwa. Total pengungsi sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa,” paparnya.
Sementara itu, di Banyumas, hujan lebat menyebabkan luapan air bercampur lumpur di beberapa aliran sungai, termasuk di kawasan objek wisata Telaga Sunyi. Menurut data BPBD setempat, banjir lumpur setinggi hampir satu meter itu sudah terjadi sejak Sabtu dini hari. Warga pun diimbau untuk menjauhi sungai sementara waktu. Untungnya, air sudah surut dan tak ada laporan kerusakan rumah atau korban jiwa di sini.
Kawasan wisata Guci di Tegal juga tak luput dari amukan alam. Lokasi ini kembali diterjang banjir. Meski tak ada korban jiwa atau rumah warga yang rusak, fasilitas wisata mengalami kerusakan serius. Kepala BPBD Tegal, M Afifudin, menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan.
"Kami memastikan tidak ada korban jiwa dan tidak ada rumah yang terdampak, kecuali beberapa fasilitas objek wisata dan tiga jembatan yang hilang. Oleh karena itu, kami menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk penanganan darurat," tegas Afifudin.
Beberapa pancuran dan pemandian air panas terpaksa ditutup total karena tertimbun pasir dan batu. Tiga jembatan, termasuk penghubung antar wilayah, hilang diterjang arus. Untuk sementara, warga diarahkan menggunakan jalur alternatif.
Upaya pembersihan jalan dari material longsor di perbatasan Brebes pun telah dilakukan. Hingga Sabtu siang, jalan tersebut dilaporkan sudah bisa dilalui kendaraan kembali.
Artikel Terkait
PSG Vs Bayern Munich di Semifinal Liga Champions, Laga Final Dini yang Diprediksi Ketat
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei
Polda Papua Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi di Merauke, Negara Rugi Hingga Rp197 Juta