Lalu, bagaimana dengan hukum? Hukum itu penting sebagai aturan main. Tapi ia akan kehilangan wibawa kalau penegakannya timpang. Masyarakat yang hakiki membutuhkan kepastian. Hukum harus menjadi pelindung bagi semua, terutama yang lemah. Keadilan sosial harus jadi tujuan nyata, bukan sekadar jargon. Bangsa yang besar memastikan hasil pembangunannya bisa dinikmati oleh mereka yang di pinggiran sekalipun.
Nilai gotong royong, bagi kita di Indonesia, adalah warisan yang tak ternilai. Ia adalah antitesis dari individualisme yang kering. Di tengah dunia yang makin kompetitif, semangat kebersamaan inilah yang bisa mencegah masyarakat tercerai-berai. Melestarikannya bukan berarti menolak kemajuan, tapi justru menemukan cara kita sendiri untuk maju.
Memang, era modern ini membawa tantangannya sendiri. Globalisasi dan arus informasi deras menerpa. Semuanya serba cepat. Kalau kita tak punya filter yang kuat, nilai-nilai luhur kita bisa tergerus. Tantangannya adalah bagaimana tetap terbuka pada hal-hal baru yang positif, tanpa kehilangan jati diri.
Dalam konteks ini, peran negara menjadi krusial. Negara harus hadir bukan sebagai pengawas yang galak, tapi sebagai pelayan dan pengayom yang bisa dipercaya. Kebijakannya harus berpihak pada rakyat banyak, menciptakan lapangan yang rata untuk semua berlari. Kepercayaan rakyat itu modal yang paling berharga, dan itu hanya bisa diraih dengan pemerintahan yang bersih dan transparan.
Jadi, pada akhirnya, bangsa dan masyarakat yang hakiki itu adalah dua hal yang saling mengisi. Bangsa yang kuat lahir dari masyarakat yang beradab. Sebaliknya, masyarakat yang beradab membutuhkan bangsa yang dijalankan dengan nilai-nilai luhur. Kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kualitas manusianya dan soliditas kehidupan sosialnya.
Jika keadilan, kejujuran, dan solidaritas masih hidup dalam keseharian, maka bangsa itu akan tetap tegak berdiri, menghadapi apa pun yang datang di kemudian hari.
Tabik.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah