Donald Trump baru-baru ini mengumumkan rencana membentuk sebuah Dewan Perdamaian Gaza. Tujuannya, katanya, untuk menyusun kerangka kerja dan mengatur pendanaan rekonstruksi. Dengan begitu, otoritas Palestina diharapkan bisa memimpin Gaza dengan lebih efektif.
Secara sekilas, gagasan ini terdengar mulia. Bayangkan, sebuah dewan yang khusus memikirkan bagaimana membangun kembali Gaza dari puing-puing. Wilayah itu sudah hancur lebur akibat perang. Tapi di sini letak paradoksnya: Amerika, yang selama ini berdiri tegak di belakang Israel, tiba-tiba ingin jadi arsitek pembangunan. Bukankah mereka juga punya andil dalam kehancuran itu?
Pertanyaan besarnya: kenapa sekarang harus mengajak negara lain untuk urun dana? Seharusnya, tanggung jawab moral itu melekat pada mereka yang terlibat. Dan yang lebih penting lagi, apa jaminannya? Misal Gaza sudah dibangun, akankah Amerika dan Israel dengan sukarela menyerahkan kendali penuh pada pemerintahan Palestina yang merdeka?
Jawabannya, menurut saya, cenderung tidak. Trump tidak akan mendukung kedaulatan penuh Palestina. Kita bisa lihat rekam jejaknya.
Selama masa kepresidenannya dulu, Trump secara terang-terangan memihak Israel. Dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan AS ke sana. Langkah itu sebuah pukulan telak bagi aspirasi Palestina.
Lalu, mengapa beberapa negara Timur Tengah dikabarkan akan mendukung dewan ini? Mungkin ada pertimbangan politik praktis di sana. Tapi bagi rakyat Palestina, ini bisa jadi jebakan.
Apa yang dilakukan Trump, bersama dewan yang dibentuknya, berisiko melemahkan perjuangan kemerdekaan. Apalagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sudah berulang kali menolak ide negara Palestina yang merdeka. Keduanya seolah berada di frekuensi yang sama.
Jadi, bisakah Dewan Perdamaian Gaza ini diharapkan? Rasanya sulit. Perdamaian sejati bukan cuma soal membangun kembali gedung atau jembatan yang megah. Intinya adalah keadilan dan kedaulatan. Rakyat Gaza butuh negara merdeka, bukan sekadar infrastruktur baru di atas tanah yang masih terjajah. Dan sayangnya, hal itu justru tidak ada dalam agenda Trump dan Netanyahu.
Artikel Terkait
Alex Marquez Menang di MotoGP Spanyol 2026 Usai Marc Marquez Jatuh, Bezzecchi Kokoh di Puncak Klasemen
Lebih 800 Alumni Unair Reuni di Jakarta, Hadirkan PADI Reborn hingga Bincang Strategis
Psikolog Ungkap Bahaya Merasionalkan Pelecehan: Tubuh Beri Sinyal, Jangan Diabaikan
IHSG Ambruk 3,38% ke 7.129, Analis Sebut Masih Rawan Koreksi