Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:36 WIB
Prabowo di Davos: Diplomasi Ekonomi dan Langkah Berani di Panggung Retak

Namun, bukan pidato ekonominya yang paling menyita perhatian. Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BOP) justru memantik perdebatan sengit. Banyak pengamat yang meragukan badan ini sejak awal. Desainnya dinilai terlalu personalistik, didominasi figur Donald Trump dengan hak veto tunggal, dan melibatkan aktor non-negara seperti Jared Kushner secara kuat. Kritik ini bahkan melahirkan satire internasional yang menyebutnya sebagai "Bored of Peace".

Istilah "Bored of Peace" itu mewakili skeptisisme yang luas. Ada kekhawatiran bahwa proyek ini lebih mengutamakan kepentingan politik-ekonomi segelintir elite, ketimbang suara korban konflik yang sebenarnya. Kekhawatiran itu beralasan. Skema rekonstruksi Gaza yang dikaitkan dengan BOP, misalnya, berpotensi mengabaikan aspirasi warga Palestina dan terlalu fokus pada pendekatan ekonomi-keamanan semata.

Tapi, mari kita lihat dari sudut lain. Bergabung tidak serta-merta berarti menyetujui semuanya. Dalam politik internasional yang ruwet ini, kadang lebih strategis untuk berjuang dari dalam. Logika ini sejalan dengan pilar Prabowonomics tentang kemandirian melalui interdependensi. Dengan bergabung, Indonesia bisa punya saluran untuk terus menyuarakan keadilan bagi Palestina dari dalam jaringan, bukan dari luar pagar.

Mengelola Risiko dan Membangun Narasi Kepercayaan

Langkah ini jelas bukan tanpa risiko. Reputasi bisa tercoreng, salah paham dari publik domestik mungkin terjadi. Tapi politik luar negeri bukanlah soal menghindari risiko, melainkan mengelolanya. Kepemimpinan yang demokratis memang menuntut keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak selalu populer, asal bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan moral.

Selain itu, Prabowo juga menyelipkan pesan keras tentang penegakan hukum. Kisah penyitaan lahan ilegal dan penutupan tambang tanpa izin ia sampaikan dengan lugas. Ini sinyal kuat, baik untuk dalam negeri maupun dunia luar, bahwa negara ini serius dengan kedaulatan hukumnya. Dalam membangun citra, narasi kepercayaan semacam ini sangat menentukan.

Secara keseluruhan, penampilan Prabowo di Davos menandai pergeseran gaya. Lebih lugas, berbasis data, tapi tidak kehilangan narasi nilai. Ia tidak menjanjikan mimpi indah, tapi menawarkan sebuah proses yang jelas. Tidak mengklaim sempurna, tapi menegaskan arah. Mungkin itu sebabnya pidatonya mendapat sorotan luas, dan bagi beberapa pengamat, menjadi salah satu momen terkuat seorang presiden Indonesia di panggung tersebut.

Pada akhirnya, pilihan untuk hadir di Davos dan terlibat dalam Board of Peace adalah langkah berani. Diambil bukan dalam dunia yang ideal, melainkan di tengah dunia yang penuh retakan. Justru di situlah kepemimpinan diuji: pada keberanian mengambil sikap di wilayah abu-abu yang penuh ketidakpastian. Dengan langkah ini, Indonesia menyatakan dirinya tetap ingin terlibat, bersuara, dan menghadapi tantangan dengan kepala tegak. Sebuah catatan penting dalam sejarah diplomasi kita.


Halaman:

Komentar