Bagi sebagian orang di Jakarta, air bukan lagi sekadar kebutuhan. Ia bisa berubah jadi ancaman yang nyata, terutama ketika musim hujan tiba dan banjir kembali menyapa. Rasanya seperti lingkaran yang tak pernah putus.
Belakangan ini, hujan deras memang mengguyur Ibu Kota tanpa ampun. Akibatnya, sungai-sungai yang membelah pemukiman pun tak kuasa menahan debit air. Luapan terjadi di mana-mana, dan genangan dengan cepat menyergap rumah-rumah warga. Kawasan yang paling menderita, tentu saja, mereka yang tinggal persis di bantaran kali.
Beberapa warga memilih bertahan, naik ke lantai atas jika rumah mereka bertingkat. Tapi bagi yang cuma punya rumah satu lantai, pilihan itu tidak ada. Mereka terpaksa angkat kaki, meninggalkan segala yang dimiliki demi keselamatan.
Salah satunya adalah Ani, 63 tahun, warga Pejaten Timur. Pada Jumat malam lalu, banjir di tempat tinggalnya mencapai ketinggian yang mengejutkan: hampir dua meter.
Begitu cerita Ani saat ditemui. Ia bersama tetangga dari RT 16 mengungsi ke teras rumah orang lain yang posisinya lebih tinggi, menyelamatkan diri sambil melihat rumahnya perlahan tenggelam.
Banjir datang begitu cepat, hampir tanpa peringatan. Ani pun panik. Tak ada waktu untuk menyelamatkan harta benda. Televisi, rice cooker, kulkas semua terpaksa ditinggalkan dalam keadaan berantakan.
Ia masih ingat betul malam itu. Banjir sebenarnya sudah mulai sejak pagi, sempat surut sebentar, lalu kembali mengamuk menjelang maghrib.
Informasi soal kiriman air dari hulu itu ia dapatkan lewat aplikasi di ponselnya, yang memantau tinggi muka air di Katulampa, Bogor. “Kan ada di hp, dari Bogor-nya. Udah dikasih tahu di situ,” ujarnya.
Artikel Terkait
Trump dan Dewan Perdamaian: Ambisi Pribadi atau Ancaman bagi Tata Dunia?
Sugiono Tegaskan Netralitas Indonesia di Tengah Isu Aneksasi Greenland
Tanah Longsor Dini Hari di Bandung Barat Tewaskan Delapan Jiwa, 82 Orang Masih Dicari
Petugas Haji 2026 Ditempa Jalan Kaki 7,5 Km, Persiapan Hadapi Rute 25 Kilometer di Tanah Suci