Bagi sebagian orang di Jakarta, air bukan lagi sekadar kebutuhan. Ia bisa berubah jadi ancaman yang nyata, terutama ketika musim hujan tiba dan banjir kembali menyapa. Rasanya seperti lingkaran yang tak pernah putus.
Belakangan ini, hujan deras memang mengguyur Ibu Kota tanpa ampun. Akibatnya, sungai-sungai yang membelah pemukiman pun tak kuasa menahan debit air. Luapan terjadi di mana-mana, dan genangan dengan cepat menyergap rumah-rumah warga. Kawasan yang paling menderita, tentu saja, mereka yang tinggal persis di bantaran kali.
Beberapa warga memilih bertahan, naik ke lantai atas jika rumah mereka bertingkat. Tapi bagi yang cuma punya rumah satu lantai, pilihan itu tidak ada. Mereka terpaksa angkat kaki, meninggalkan segala yang dimiliki demi keselamatan.
Salah satunya adalah Ani, 63 tahun, warga Pejaten Timur. Pada Jumat malam lalu, banjir di tempat tinggalnya mencapai ketinggian yang mengejutkan: hampir dua meter.
“Langsung aja kita jalan, airnya udah segini, seleher. Cepet banget naiknya. Enggak bawa apa-apa, cuma bawa badan. Dari kemarin juga enggak ganti baju. Yang penting nyelametin diri,”
Begitu cerita Ani saat ditemui. Ia bersama tetangga dari RT 16 mengungsi ke teras rumah orang lain yang posisinya lebih tinggi, menyelamatkan diri sambil melihat rumahnya perlahan tenggelam.
Banjir datang begitu cepat, hampir tanpa peringatan. Ani pun panik. Tak ada waktu untuk menyelamatkan harta benda. Televisi, rice cooker, kulkas semua terpaksa ditinggalkan dalam keadaan berantakan.
“Sudah dibiarin aja. TV jungkir balik, tempat masak nasi, kulkas. Masih rezeki, ya gitu dah. Kita panik lihat air udah tinggi. Rumah dikunci, digembok, ditinggal. Kalau udah dijemput perahu, udah enggak mikirin barang, mikirin diri sendiri aja,”
Ia masih ingat betul malam itu. Banjir sebenarnya sudah mulai sejak pagi, sempat surut sebentar, lalu kembali mengamuk menjelang maghrib.
“Udah banjir dari pagi, sempat surut jam tiga. Terus saya dikasih tahu, ‘entar siap-siap, air bakalan naik puncaknya jam enam maghrib.’ Pas jam enam, air beneran datang,”
Informasi soal kiriman air dari hulu itu ia dapatkan lewat aplikasi di ponselnya, yang memantau tinggi muka air di Katulampa, Bogor. “Kan ada di hp, dari Bogor-nya. Udah dikasih tahu di situ,” ujarnya.
Hingga keesokan harinya, Sabtu, air belum juga surut sepenuhnya. Ani terpaksa menginap di rumah tetangga. Tidur? Itu kemewahan yang sulit didapat.
“Iya, numpang. Enggak bisa tidur. Duduk aja. Kalau banjir mah enggak ada yang tidur,”
Sudah 14 tahun Ani tinggal di kontrakan kecil itu. Lokasinya persis di tepi Kali Ciliwung, menjadikannya titik yang paling rentan ketika air meluap. “Pas banget di belakang kali. Dari rumah saya keliatan kali itu,” katanya.
Banjir, baginya, sudah seperti bagian dari hidup. Terutama saat musim penghujan.
“Kalau banjir kecil mah, sedengkul, hampir tiap hari. Kalau siaga 3 aja tuh, tiap hari banjir,”
Namun pengalaman terburuknya terjadi beberapa bulan silam, tepat di bulan puasa. “Puasa kemarin, puasa kedua, kita udah kelelep. Air masuk semua. Ini belum puasa aja udah kayak gini lagi,” ucapnya lirih.
Hidup di pinggir sungai jelas bukan hal mudah. Rasa cemas selalu menghantui, menggerogoti ketenangan.
“Bukan capek lagi. Kalau udah musim hujan, malem aja udah enggak bisa tidur. Takut air naik,”
Ani sebenarnya ingin pindah. Tapi keinginan itu mentok di tengah jalan karena keterbatasan ekonomi. “Saya ngontrak. Mau cari kontrakan yang lebih mahal, duitnya enggak ada. Bapaknya udah meninggal. Ya udah, mau banjir segimana pun, kita tahan aja,” ujarnya dengan nada pasrah.
Di tengah semua keterbatasan itu, hanya ada satu harapan yang ia simpan untuk pemerintah.
“Pengennya sih cepet digusur, terus direlokasi,”
Harapan sederhana dari seorang perempuan yang, malam demi malam, hanya bisa duduk menunggu dan mendengarkan deru air di belakang rumahnya.
Artikel Terkait
Arsenal Kembali ke Puncak Klasemen Usai Kalahkan Newcastle 1-0 Berkat Gol Cepat Eze
Tim SAR Makassar Cari Perempuan 51 Tahun yang Tersesat di Hutan Palopo
Barcelona Kukuhkan Puncak Klasemen Usai Taklukkan Getafe 2-0
Wamen Pertanian Dorong Investasi Peternakan Sapi Perah dan Pedaging di Wonosobo untuk Tekan Impor Susu