Hingga keesokan harinya, Sabtu, air belum juga surut sepenuhnya. Ani terpaksa menginap di rumah tetangga. Tidur? Itu kemewahan yang sulit didapat.
Sudah 14 tahun Ani tinggal di kontrakan kecil itu. Lokasinya persis di tepi Kali Ciliwung, menjadikannya titik yang paling rentan ketika air meluap. “Pas banget di belakang kali. Dari rumah saya keliatan kali itu,” katanya.
Banjir, baginya, sudah seperti bagian dari hidup. Terutama saat musim penghujan.
Namun pengalaman terburuknya terjadi beberapa bulan silam, tepat di bulan puasa. “Puasa kemarin, puasa kedua, kita udah kelelep. Air masuk semua. Ini belum puasa aja udah kayak gini lagi,” ucapnya lirih.
Hidup di pinggir sungai jelas bukan hal mudah. Rasa cemas selalu menghantui, menggerogoti ketenangan.
Ani sebenarnya ingin pindah. Tapi keinginan itu mentok di tengah jalan karena keterbatasan ekonomi. “Saya ngontrak. Mau cari kontrakan yang lebih mahal, duitnya enggak ada. Bapaknya udah meninggal. Ya udah, mau banjir segimana pun, kita tahan aja,” ujarnya dengan nada pasrah.
Di tengah semua keterbatasan itu, hanya ada satu harapan yang ia simpan untuk pemerintah.
Harapan sederhana dari seorang perempuan yang, malam demi malam, hanya bisa duduk menunggu dan mendengarkan deru air di belakang rumahnya.
Artikel Terkait
Jonathan Miliano Alami Cedera ACL Kedua, Absen dari FIFA Matchday Series
Atalanta Siap Hadapi Bayern Munchen di Malam Ajaib Liga Champions
Bhayangkara Lampung FC Bangkit dari Ketertinggalan, Kalahkan Arema FC 2-1
KPK Yakin Gugatan Praperadilan Yaqut Terkait Kasus Kuota Haji Akan Ditolak