Umat Muslim Perkuat Ibadah dengan Itikaf di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

- Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40 WIB
Umat Muslim Perkuat Ibadah dengan Itikaf di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Menjelang Detik-Detik Akhir Ramadhan: Menyiapkan Diri dengan I'tikaf

Udara di sepuluh malam terakhir Ramadhan memang terasa berbeda. Bagi umat Islam, ini adalah fase yang sangat dinanti momen untuk mengencangkan ikat pinggang dan memaksimalkan ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah i'tikaf di masjid. Tujuannya jelas: berburu malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Rasulullah SAW sendiri tak pernah absen melakukannya. Ibadah ini, di samping shalat malam, tadarus, dan sedekah, menjadi penanda kesungguhan kita menyambut kepergian bulan penuh berkah. Menurut sebuah hadits, keutamaan fase akhir Ramadhan ini luar biasa: pembebasan dari api neraka.

Bahkan, ada kesedihan yang mendalam menyertai berakhirnya bulan suci ini. Dalam riwayat lain disebutkan langit, bumi, dan para malaikat pun menangis. Kenapa? Karena hilangnya kesempatan emas dimana doa-doa dikabulkan, amal dilipatgandakan, dan siksa dihentikan. Wajar saja para sahabat dan orang-orang shaleh dulu kerap bersedih. Mereka paham, perginya Ramadhan berarti perginya segala keutamaan yang ada di dalamnya.

Lalu, apa sebenarnya i'tikaf itu? Ustaz Ahmad Sarwat, MA., dari Rumah Fiqih Indonesia, menerangkan asal katanya dari ‘akafa yang artinya menahan atau memenjarakan. Secara istilah, i'tikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan niat dan tata cara tertentu untuk mendekatkan diri pada Allah. Ibaratnya, kita mencoba menyerupai malaikat selalu taat dan bertasbih tanpa henti.

Bagaimana Tata Caranya?

Pertama, tentu saja niat. Bacalah: "Nawaitul i'tikafa fii haadzal masjidi lillahi ta'ala" (Saya niat I’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala).

Selain niat, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi: suci dari hadats besar, berakal, muslim, dan berdiam di masjid minimal seukuran tuma'ninah shalat (sekitar lima detik). Bukan di musala atau pesantren, melainkan di masjid.

Selama berdiam, isilah waktu dengan amalan. Perbanyak shalat, baik wajib maupun sunnah seperti tarawih atau tahajud. Jangan lupa tadarus Al-Qur'an, berdzikir, dan bershalawat. Intinya, kurangi bicara yang tak perlu dan perbanyaklah memohon ampun.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar