Bogor Gagasan mantan Presiden AS Donald Trump untuk membentuk sebuah Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza menuai kritik tajam. Pengamat politik internasional, Pizaro Gozali Idrus, menyoroti sebuah hal yang ia anggap sangat ganjil dari rencana itu: ketiadaan peran serta pihak Gaza sendiri.
"Ini kan aneh," ujarnya, dengan nada heran. "Bagaimana mungkin ingin membuat program di Gaza, tapi yang paling berkepentingan justru ditinggalkan?"
Pernyataan itu disampaikan Pizaro di sela peluncuran bukunya, 'Runtuhnya Mitos Kehebatan Tentara Israel dan Para Peruntuh Mitos', di sebuah kafe di Bogor, Jumat lalu. Menurutnya, sampai detik ini, kejelasan tentang badan tersebut masih sangat minim.
"Kita tidak melihat penjelasan yang detail, baik dari Trump maupun dari pemerintah Indonesia," katanya. Ia mempertanyakan alasan Indonesia bahkan mempertimbangkan untuk terlibat dalam sebuah dewan yang dibentuk secara sepihak seperti itu.
Bagi Pizaro, dewan ini lebih terasa seperti alat kepentingan politik Amerika di Timur Tengah. Bukan upaya sungguhan untuk perdamaian. Negara-negara Arab dan Muslim, dalam pandangannya, cuma dijadikan etalase belaka. Sekedar simbol untuk menguatkan legitimasi Trump.
Komposisi anggotanya pun jadi bahan kritik. Dia menyebut nama-nama seperti Donald Trump sendiri, Jared Kushner, dan mantan PM Inggris Tony Blair.
"Ini dewan perdamaian tanpa perdamaian," tegas Pizaro. "Mereka menyebut perdamaian, tapi tidak mengakui adanya genosida di Palestina. Jelas bertentangan."
Artikel Terkait
Mooncake di Imlek 2026: Simbol Kebersamaan yang Lahir dari Pemberontakan Rahasia
Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Trump: Strategi atau Penyimpangan Prinsip?
Siklon Tropis Luana Menguat, BMKG Imbau Waspada Dampak Gelombang Tinggi
Hujan Deras Landa Bekasi, Delapan Kecamatan Terendam dan Longsor Mengancam