Pandji Pragiwaksono Dilaporkan Lagi, Pola Pelapor Terhubung ke Istana?

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:40 WIB
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan Lagi, Pola Pelapor Terhubung ke Istana?

Rasanya tak mengherankan kalau Pandji Pragiwaksono kini 'diburu' untuk jadi tersangka. Sebab, kritiknya terhadap apa yang dia sebut "dinasti politik Jokowi" memang sudah lama terdengar. Bukan sembunyi-sembunyi, melainkan terang-terangan dan dengan nada yang cukup vulgar.

Semua itu bukan hal baru. Jauh sebelum tayang di Mens Rea Netflix, Pandji sudah kerap menyuarakan kekesalannya.

Di podcast Akbar Faizal Uncensored pada 12 Agustus 2024 lalu, misalnya, dia bicara blak-blakan.

"SEPUPU, ADIK IPAR, PONAKAN, ANAK BUNGSU, MENANTU. Kita kan dari dulu tahu negara ini dikuasai oleh segelintir orang. Tapi dulu orang sembunyi-sembunyi. Kalau ini terang-terangan,"

Ungkapan itu mungkin bisa menjelaskan mengapa yang melaporkannya ke polisi punya kaitan historis dengan keluarga Jokowi. Ambil contoh laporan pertama. Pelapornya mengaku dari kalangan NU dan Muhammadiyah, tapi belakangan ketahuan pernah jadi Timses Gibran.

Belum usai urusan itu, Kamis (22/1/2026) lalu, Pandji kembali dilaporkan. Kali ini ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penistaan agama. Yang melayangkan laporan adalah perwakilan Majelis Pesantren Salafiyah Banten, KH Matin Syarkowi.

Nah, ini yang menarik. Ternyata, KH Matin Syarkowi bukan sosok asing di peta politik. Dia tercatat sebagai pendukung Jokowi di Pilpres 2019 dan juga mendukung Gibran di Pilpres 2024. Polanya jadi terasa, bukan?

Kegeraman Pandji terhadap dinasti politik itu terekam jelas dalam sebuah video yang beredar luas. Ekspresinya tegas, kata-katanya tanpa tedeng aling-aling. "Mereka pikir kita ini bodoh?" tanyanya dalam cuplikan itu. Video tersebut, beserta cuitan-cuitan yang mendukung, ramai dibagikan netizen, memperlihatkan bagaimana isu ini menyulut beragam reaksi di masyarakat.

Di sisi lain, ada juga suara sumbang yang ikut meramaikan. Seperti cuitan seorang netizen yang menyindir, "Kyai juga ada yang sibuk cari dan numpuk-numpuk cuan, masalah ummat/Rakyat sengsara dan bodoh bukan urusan dia."

Semuanya berbaur. Kritik, laporan polisi, dan dukungan dari warganet. Semua mengalir dalam satu narasi besar yang rumit, menunjukkan betapa panasnya suhu politik saat ini.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar