Di hadapan ratusan peserta peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Presiden Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara soal gelombang ejekan dan pesimisme yang kerap menyasar dirinya. Suasana di Kalimantan Selatan itu ia gunakan untuk melontarkan tudingan serius. Menurutnya, sumber serangan itu bukanlah suara banyak orang. Hanya segelintir pihak, tapi punya modal besar dan sarana lengkap untuk membentuk opini publik sesuka hati.
"Saya tahu ada yang mengejek," ujar Prabowo, suaranya tegas.
"Sebenarnya tidak banyak, hanya segelintir orang saja. Tapi mereka punya uang, punya sarana, dan bisa menyebarkan sinisme serta pesimisme."
Ia bahkan tak menutup kemungkinan. Bisa jadi, di balik segelintir orang itu ada sokongan dari kekuatan asing. Polanya terlalu terorganisir, terlihat sekali bukan kritik spontan dari warga biasa. Ini lebih mirip upaya sistematis, dirancang untuk menggerogoti kepercayaan publik.
Namun begitu, Prabowo memastikan dirinya tak akan terpancing. Ia memilih fokus bekerja, menjalankan apa yang dianggapnya benar. Presiden percaya, masyarakat Indonesia punya naluri dan kecerdasan kolektif sendiri. Mereka bisa membedakan mana kritik yang jujur, mana yang cuma propaganda pengacau kepercayaan.
Artikel Terkait
Suara Gaza yang Tak Bisa Dibungkam: Mosab Abu Toha dan Seruan untuk Menentukan Nasib Sendiri
Harta Rp 15,38 Miliar Letkol Teddy, Mayoritas dari Hibah Properti
Gus Baha Sindir Kebiasaan NU Memaksakan Dalil yang Tak Jelas Juntrungnya
Misteri Ijazah Jokowi dan Klaim Bukan Orang yang Sebenarnya