Harga minyak dunia yang melonjak gara-gara ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai bikin waswas. Kementerian UMKM memperingatkan, gejolak ini bisa berujung pada naiknya harga produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah di dalam negeri. Situasinya memang cukup pelik.
Deputi Bidang Usaha Kecil, Temmy Satya Permana, menjelaskan soal angkanya. Saat ini, harga minyak sudah tembus 117 dolar AS per barel. Padahal, asumsi dalam APBN 2026 cuma 70 dolar. Selisihnya jauh banget.
"Kenaikan harga minyak ini kemungkinan besar akan mendorong penyesuaian subsidi energi dan berdampak pada harga barang pokok," ujar Temmy di Jakarta, Selasa.
Ia melanjutkan, "Kalau harga barang pokok naik, ya harga pokok penjualan UMKM juga ikut merangkak. Ujung-ujungnya, masyarakat biasa yang ngerasain."
Menurut Temmy, sektor yang paling terpukul adalah UMKM di bidang jasa, terutama angkutan dan distribusi. Logikanya sederhana: naiknya harga bensin langsung bikin biaya operasional mereka membengkak. Efek berantainya? Harga sembako ikut terdongkrak.
Di sisi lain, ada kabar yang sedikit menenangkan. Pemerintah disebut masih berkomitmen menahan harga BBM subsidi agar tidak naik dalam waktu dekat. Tapi, situasi ini tetap jadi alarm bagi pelaku UMKM.
"Ini pengingat penting," kata Temmy. Ia menilai, UMKM harus fokus memperkuat pasar dalam negeri agar bisa tahan banting menghadapi gejolak global yang sulit ditebak.
Pernyataan serupa sebelumnya juga datang dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menegaskan belum ada rencana menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak dunia bergejolak.
"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM," tegas Purbaya kepada awak media di Jakarta, Senin (9/3).
Namun begitu, pemerintah masih perlu waktu sekitar satu bulan untuk mengevaluasi kemungkinan penyesuaian APBN. Soalnya, hitungannya nggak main-main.
Analisis sensitivitas APBN 2026 mengungkap fakta mencengangkan. Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi membebani anggaran negara dengan defisit tambahan hingga Rp6,8 triliun. Angka yang fantastis, bukan? Dengan asumsi awal cuma 70 dolar per barel, tekanan ke anggaran negara jelas sangat besar.
Jadi, meski harga di pom bensin belum bergerak, gelombang kejut dari konflik ribuan kilometer jauhnya sudah terasa di sini. Para pelaku usaha kecil pun diminta bersiap.
Artikel Terkait
Ketua Komisi B DPRD DKI Usul Tarif TransJakarta Naik Jadi Rp5.000
Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin
Politik dan Agama Kembali Beririsan: Trump vs Paus di Tengah Konflik Iran
Polisi Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Santri, Sahroni Minta Hukuman Berat