Rizal Fadillah: Suara yang Tak Pernah Lelah
Di tengah riuh rendah wacana publik, nama Rizal Fadillah muncul dengan caranya sendiri. Bukan dengan teriakan, tapi dengan gagasan. Bukan dengan pencitraan, melainkan keteguhan prinsip. Sosok aktivis ini lama dikenal sebagai pengkritik yang tak mudah goyah, selalu menyuarakan isu keadilan dan kepentingan rakyat dengan gaya yang lugas dan berani. Bagi banyak orang, dia adalah pengingat bahwa demokrasi butuh suara-suara kritis yang jujur.
Reputasinya bukan dibangun dari popularitas instan. Rizal hadir lewat pemikiran dan sikap. Pandangannya kerap tajam, bahkan dianggap kontroversial, namun selalu disertai kerangka berpikir yang rasional. Ia bicara hukum, politik, kebangsaan, dan moral publik dengan satu tujuan: menjaga marwah nilai-nilai yang ia yakini mulai tergerus pragmatisme kekuasaan.
Di sisi lain, Rizal bukan sekadar tukang kritik. Ia seorang intelektual-aktivis yang juga menjelaskan, menawarkan alternatif. Dalam berbagai forum diskusi, tulisan opini, atau pernyataan sikap kemampuannya meramu data, sejarah, dan analisis hukum menjadi argumen utuh memang patut dicatat. Itu yang membuat suaranya didengar, baik oleh pendukung maupun oleh mereka yang tak sependapat.
Keberaniannya mengambil posisi di saat banyak orang memilih diam adalah ciri lain yang menonjol. Dalam situasi penuh tekanan politik, justru di situlah ia sering tampil ke depan. Bagi Rizal, diam terhadap ketidakadilan sama saja dengan membiarkannya. Sikap ini tentu punya konsekuensi: ia kerap berada di garis depan perdebatan, menghadapi risiko sosial dan politik yang tidak kecil.
Integritas menjadi kata kunci yang melekat padanya. Di mata pendukungnya, Rizal Fadillah adalah simbol keteguhan. Ia dinilai tak mudah berkompromi dengan kekuasaan jika prinsip dipertaruhkan. Meski kerap mendapat kritik balik atau serangan opini, karakternya justru makin terlihat: tetap berdiri, tetap bersuara.
Namun belakangan, namanya ramai dikaitkan dengan kasus lain. Ada Eggi Sujana dan DHL yang ‘sowan’ ke Solo, yang kemudian memicu heboh soal isu ijazah palsu. Rizal Fadillah justru didepak dari Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) tim yang dikenal sebagai penggugat kasus ijazah mantan presiden Joko Widodo.
Saat dikonfirmasi mengenai pemecatannya, Rizal memberikan tanggapan eksklusif.
"Eggi ngarang saja ada Ketum memiliki hak prerogatif. Tidak ada dasar hukumnya. Sifat Tim itu kolektif kolegial. Mengambil keputusan sendiri tanpa musyawarah, namanya otoriter. Islam berbasis pada musyawarah," ujarnya tegas.
Ia justru menyikapi pemecatan itu dengan rasa bahagia.
"Karena indikasi Eggi dan DHL ketemu atau sowan kepada Jokowi itu salah dan merendahkan diri. Hak dan batil tidak boleh bercampur," lanjutnya.
Menurut Rizal, mekanisme pemecatannya pun bermasalah. "Dimana mana sanksi itu beralasan. Alasan tidak bisa bekerjasama harus ada parameter. TPUA pimpinan Eggi Sudjana tidak bersandar pada manajemen yang baik. Kerja hanya tergantung pada kemauan Ketum adalah buruk, bahkan busuk."
"Eggi memang tidak becus dalam berorganisasi. Lucu, pemecatan bersandar pada like and dislike atau hawa nafsu semata," tambahnya dengan nada sinis.
Ia menilai friksi ini bukan soal idealisme, melainkan pragmatisme. "Publik sudah dapat menilai. Mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri adalah sumber penyakit. TPUA yang didirikan ulama, dirusak oleh Ketumnya sendiri yang memang bukan ulama."
Rizal berpendapat langkah yang seharusnya diambil berbeda. "Seharusnya atas langkah blunder sowan ke Solo apalagi dalam rangka meminta-minta restorative justice bukanlah dengan berujung memecat yang tidak terlibat."
Bagi Rizal, Eggi Sudjana-lah yang seharusnya mundur. "Eggi yang seharusnya mundur juga dari jabatan Ketum dan segera bertobat. Meminta maaf kepada ulama dan umat yang telah memberi amanat. Ia telah merusak marwah dan martabat."
Pesan terakhirnya terdengar seperti peringatan yang getir. "Awal berada di simpang jalan, lalu berdiri di tepi jurang, berakhir tenggelam di kubangan limbah kepalsuan, kemunafikan, dan kebodohan. Sungguh kasihan."
Dialog itu memperlihatkan sisi lain dari dinamika gerakan sipil. Rizal Fadillah dikenal tegas, tapi selalu mengedepankan argumentasi. Baginya, perbedaan pandangan adalah hal wajar, asal diselesaikan dengan mekanisme yang adil dan bermartabat. Ketika prinsip itu dilanggar, ia tak ragu menyampaikan kritik secara terbuka. Sikap ini menegaskan posisinya sebagai penjaga etika gerakan, bukan sekadar pengikut.
Di tengah iklim demokrasi kita yang kerap panas oleh polarisasi, Rizal Fadillah berdiri sebagai figur yang mengingatkan pentingnya akal sehat dan keberanian moral. Mungkin tak semua sepakat dengannya, tapi suaranya sulit diabaikan. Konsistensinya dalam menyuarakan kritik telah menjadikannya semacam referensi untuk membaca dinamika sosial-politik Indonesia yang tak pernah sederhana.
Pada akhirnya, sosok seperti Rizal adalah cermin. Cermin aktivisme yang berakar pada nilai, bukan kepentingan sesaat. Sebuah suara kritis yang terus menguji kekuasaan, menagih janji konstitusi, dan mengajak kita semua untuk tak lelah menjaga demokrasi. Perubahan, baginya, selalu dimulai dari keberanian bersuara dan keteguhan memegang prinsip. Titik.
Artikel Terkait
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim
Bayern Munich Hadapi Real Madrid di Allianz Arena dengan Modal Agregat Tipis
Mukena Premium Naeka Ekspansi ke Pasar Global Berkat Dukungan UMKM
Polisi Kukar Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu, Selamatkan 15.000 Orang dari Jerat Narkoba