BMKG Proyeksikan Puncak Kemarau 2026 pada Agustus, 48,84 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

- Rabu, 10 Juni 2026 | 13:30 WIB
BMKG Proyeksikan Puncak Kemarau 2026 pada Agustus, 48,84 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan awal musim kemarau di Indonesia akan dimulai pada Juni 2026, dengan puncak kekeringan yang diperkirakan terjadi pada Agustus tahun yang sama di sebagian besar wilayah. Lembaga tersebut mendesak para pemangku kepentingan untuk segera menyusun kebijakan jangka panjang guna mengantisipasi dampak iklim terhadap berbagai sektor strategis.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (10/6/2026), mengungkapkan bahwa puncak musim kemarau akan melanda 369 zona musim, yang setara dengan 48,84 persen luas daratan Indonesia. “Adapun untuk puncak musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia di 369 zona musim mencakup 48,84% luas daratan Indonesia, diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026,” ujarnya.

BMKG berharap informasi pemutakhiran prediksi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan instansi terkait dalam merancang langkah mitigasi serta kebijakan jangka menengah hingga panjang. Hal ini dinilai krusial untuk melindungi sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan iklim, seperti pertanian, ketahanan pangan, dan sumber daya air.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci lebih lanjut bahwa puncak musim kemarau 2026 secara umum terbagi dalam tiga periode. Pada Juli, sebanyak 83 zona musim atau 12,26 persen luas daratan Indonesia akan mengalami puncak kemarau. Mayoritas, yakni 369 zona musim atau 48,84 persen luas daratan, akan merasakan puncaknya pada Agustus. Sementara itu, 169 zona musim yang mencakup 25,41 persen wilayah Indonesia diprediksi mencapai puncak kemarau pada September.

Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau paling awal, yaitu pada Juni, meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Jawa, bagian selatan Nusa Tenggara Timur, utara Sulawesi Barat, barat Sulawesi Tengah, sebagian kecil Maluku, selatan Papua Barat Daya, tengah Papua Barat, serta bagian timur Papua.

Memasuki Agustus, puncak kemarau diprakirakan terjadi di Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, selatan Maluku Utara, dan hampir seluruh Pulau Papua. Sementara itu, pada September, wilayah yang terdampak meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, serta bagian tengah Papua Pegunungan.

Di sisi lain, BMKG mencatat bahwa durasi musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih panjang dibandingkan kondisi normal pada 437 zona musim. Wilayah-wilayah ini mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia. “Durasi musim kemarau tahun 2026 ini kita prediksi lebih panjang, yaitu sebanyak 437 zona musim yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia,” kata Ardhasena.

Sebaliknya, hanya 70 zona musim atau 8,32 persen luas daratan yang diperkirakan memiliki durasi kemarau sama dengan normalnya. Bahkan, lebih sedikit lagi, yakni 79 zona musim atau 9,23 persen luas daratan, yang justru mengalami musim kemarau lebih pendek dari biasanya.

BMKG mengungkapkan bahwa hasil pemutakhiran prediksi ini menunjukkan awal musim kemarau 2026 di Indonesia umumnya maju atau lebih awal dibandingkan kondisi normal. Selain itu, curah hujan yang turun selama periode kemarau diprediksi berada dalam kategori bawah normal, atau lebih kering dari kondisi rata-rata tahunan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar