Di tengah forum para pemimpin global di Davos, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Komitmennya untuk memberantas korupsi dan praktik bisnis serakah digaungkan dengan nada menantang, khususnya bagi segelintir pengusaha yang masih berani berpikir bisa menyuap pejabat negara.
"Saya dapat laporan, dalam rapat internal mereka ada yang bilang, 'Tenang saja, semua pejabat bisa dibeli.' Saya tantang mereka," ujar Prabowo di hadapan peserta World Economic Forum 2026, Kamis lalu.
"Coba saja suap di pemerintahan saya. Mereka akan terkejut dengan akibatnya."
Pernyataannya itu bukan sekadar retorika. Dalam paparannya, Prabowo mengklaim langkah penegakan hukum di tahun pertama pemerintahannya termasuk yang paling berani dalam sejarah Indonesia. Bayangkan saja, sekitar 4 juta hektar lahan perkebunan dan pertambangan ilegal berhasil disita. Angka yang fantastis, dan menunjukkan betapa masifnya praktik perampasan lahan yang terjadi selama ini.
Bagi Prabowo, ini bukan soal pasar bebas lagi. Ini adalah greedonomics ekonomi keserakahan. Sistem yang membiarkan segelintir pihak meraup untung besar dengan menginjak-injak hukum, merusak lingkungan, dan tentu saja, mengorbankan rakyat. "Mungkin di banyak negara pernah ada fase 'robber barons' seperti ini," katanya, menyamakannya dengan era kapitalis liar di masa lalu.
Selain penyitaan, pemerintah juga tak segan mencabut izin 28 perusahaan yang menguasai lebih dari satu juta hektar lahan. Alasannya jelas: pelanggaran hukum, termasuk membuka perkebunan di area hutan lindung.
Artikel Terkait
Tan Malaka dan Politik Pangan: Antara Memberi Ikan dan Membebaskan Pikiran
Bocah 6 Tahun Tegar Bacakan Surah Al-Insyirah untuk Ayahnya, Korban Jatuhnya Pesawat di Pangkep
Tanggul Jebol di Depok, Banjir Rendam Permukiman Warga
Saksi Kunci UGM Bantah Foto Ijazah Jokowi di Sidang Solo: Wajahnya Tidak Sama